Sahur Bukan Sembarang Makan, namun Penuh Keberkahan

  • 20 Feb 2026 15:40 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Sahur sering kali dipahami sebatas aktivitas makan dan minum sebelum terbit fajar. Padahal, dalam ajaran Islam, sahur bukanlah sekadar rutinitas fisik untuk menahan lapar sepanjang hari. Sahur adalah sunnah yang mengandung keberkahan besar dan menjadi bagian dari ibadah yang bernilai pahala.

Ketua 1 Bidang Fatwa MUI Kabupaten Sumenep, KH Chairul Anam, mengatakan sahur bukan sembarang makan, melainkan ajaran yang disunnahkan dan mengundang berlipat gandanya kebaikan (barokah). Hal ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah saw dalam sejumlah hadits shahih. Beliau kemudian membanginya kedalam beberapa bahasan.

Keberkahan dalam Sahur

Pertama, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas ra, Rasulullah saw menegaskan tentang keberkahan dalam makan sahur:

عن أنس رضي الله عنه قال صلى الله عليه و سلم: تسحروا فإن في السحور بركة (رواه الشيخان)

Artinya: Diriwayatkan dari Anas ra, Rasulullah saw bersabda, “Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu mengandung keberkahan.” (HR Syaikhani).

Hadits ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar penguat fisik, tetapi sumber keberkahan yang Allah limpahkan kepada hamba-Nya yang menjalankannya.

Meski Hanya Seteguk Air

Kedua, keberkahan sahur tetap ada meski hanya dengan seteguk air. Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar ra:

وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم تسحروا ولو بجرعة من ماء رواه ابن حبان في صحيحه

Artinya: Dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kalian bersahur meskipun hanya seteguk air.” (HR Ibnu Hibban).

Pesan ini menegaskan bahwa inti sahur bukan pada banyak atau lezatnya makanan, melainkan pada pelaksanaan sunnah itu sendiri.

Disertai Shalawat Allah dan Malaikat

Ketiga, keutamaan sahur semakin istimewa karena Allah swt dan para malaikat bershalawat kepada orang yang bersahur. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri ra:

وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم السحور كله بركة فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء فإن الله عز و جل وملائكته يصلون على المتسحرين

Artinya: Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sahur sepenuhnya mengandung berkah. Maka itu, jangan kalian meninggalkannya meskipun kalian hanya meminum seteguk air karena Allah dan malaikat bershalawat untuk mereka yang bersahur.” (HR Ahmad).

Betapa mulianya amalan ini, hingga pelakunya mendapatkan doa dan pujian dari Allah dan para malaikat.

Tidak Dihisab oleh Allah

Keempat, disebutkan bahwa makanan sahur termasuk yang tidak dihisab oleh Allah swt. Padahal secara umum, setiap apa yang kita makan akan dimintai pertanggungjawaban. Namun ada pengecualian sebagaimana disebutkan dalam hadits:

ثلاثة لا يحاسب عليها العبد أكلة السحر وما أفطر عليه والأكل مع الإخوان

Artinya: “Ada tiga hal (makanan) di mana seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah swt, yaitu makanan sahur, makanan saat berbuka puasa, dan makanan yang dinikmati bersama saudara-saudara yang lain.”

Hadits ini memperlihatkan betapa Allah memuliakan momen-momen yang terkait dengan ibadah dan kebersamaan.

Pembeda Umat Islam

Kelima, sahur menjadi pembeda antara puasa umat Islam dan puasa Ahli Kitab. Rasulullah saw bersabda:

فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر

Artinya: “Yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.”

Menjelaskan hadits ini, Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menyatakan:

معناه الفارق والمميز بين صيامنا وصيامهم السحور فإنهم لا يتسحرون ونحن يستحب لنا السحور

Artinya: “Maknanya, yang menjadi pembeda dan keistimewaan antara puasa kita dan puasa mereka (Yahudi dan Nasrani) adalah sahur. Karena sesungguhnya mereka tidak sahur, sedangkan kita disunahkan untuk sahur.” (Syarah Muslim Imam Nawawi, juz 7, halaman 207).

Penjelasan ini menegaskan bahwa sahur bukan sekadar tradisi, melainkan identitas ibadah umat Islam.

Sahur adalah Ibadah, Bukan Sekadar Nafsu Makan

Karena itu, sahur, menurut pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah, Karanggiri, Batu Putih, Sumenep, tidak boleh dipersempit hanya sebagai aktivitas makan untuk memenuhi selera. Jangan sampai seseorang hanya mau sahur ketika makanan sesuai keinginannya, lalu meninggalkannya saat tidak berselera.

“Sahur adalah ibadah sunah. Ia dilakukan bukan semata-mata karena lapar atau takut lemas, tetapi karena mengikuti sabda Rasulullah saw. Di situlah letak nilai spiritualnya,” ujarnya.

Dengan memahami hakikat tersebut, sahur menjadi lebih dari sekadar makan sebelum fajar. Ia merupakan wujud ketaatan, penegas identitas keislaman, sekaligus ladang keberkahan yang kerap diremehkan. Maka, jangan tinggalkan sahur, meski hanya dengan seteguk air, karena di dalamnya terdapat keberkahan yang besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....