Jangan Asal Bertanya ke AI, Ilmu Agama Harus Bersanad kepada Guru

  • 23 Jul 2026 07:10 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep : Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk pengetahuan keagamaan. Berbagai pertanyaan kini dapat dijawab hanya dalam hitungan detik melalui AI maupun internet. Kemudahan ini memang memberikan manfaat besar, tetapi juga menghadirkan tantangan apabila digunakan tanpa bekal ilmu yang memadai.

Dalam sebuah dialog mengenai pemanfaatan AI untuk pembelajaran agama, dijelaskan bahwa masyarakat perlu lebih selektif dalam memilih sumber informasi. Konten dan situs yang dijadikan rujukan harus berasal dari sumber yang terpercaya. Jika ragu terhadap kredibilitas suatu informasi, masyarakat dianjurkan bertanya kepada orang yang memiliki kompetensi untuk memastikan kebenaran sumber tersebut.

Pembahasan mengenai penggunaan AI dalam mencari ilmu agama juga telah menjadi perhatian para ulama. Menurut Penyuluh Agama Kemenag Sumenep Amirul Khatib dalam siaran Mutiara Pagi RRI pada Kamis 23 Juli 2026, salah satunya melalui forum Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama di Sumenep yang membahas hukum penggunaan AI pada era modern. Dalam forum tersebut dijelaskan bahwa penggunaan AI memiliki hukum yang berbeda, "bergantung pada siapa yang menggunakannya dan bagaimana AI dimanfaatkan", ucapnya.

Bagi seseorang yang telah memiliki dasar ilmu agama, penggunaan AI untuk memperkaya wawasan atau melengkapi pemahaman dinilai diperbolehkan. AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung untuk menelusuri referensi, membandingkan pendapat, atau membantu memahami suatu persoalan. Dengan kata lain, AI bukan dijadikan sebagai sumber utama ilmu, melainkan sebagai alat untuk menyempurnakan pengetahuan yang telah dimiliki.

Sebaliknya, seseorang yang belum memiliki dasar keilmuan agama tidak dianjurkan menjadikan AI sebagai rujukan utama dalam belajar. Hal ini karena AI hanya memberikan jawaban berdasarkan data yang diproses, sementara kualitas jawaban sangat dipengaruhi oleh pertanyaan atau prompt yang diberikan. Kesalahan dalam menyusun pertanyaan dapat menghasilkan jawaban yang kurang tepat, tidak utuh, bahkan berpotensi menyesatkan.

Fenomena masyarakat yang semakin bergantung pada internet dan AI juga menjadi dilema di era keterbukaan informasi. Di satu sisi, akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi jauh lebih mudah sehingga siapa pun dapat belajar kapan saja. Namun di sisi lain, informasi yang diterima sering kali tidak disertai penjelasan yang menyeluruh, sehingga berisiko menimbulkan kesalahpahaman.

Karena itu, proses belajar, khususnya dalam bidang agama, tetap memerlukan bimbingan seorang guru. Kehadiran guru, kiai, atau ustaz memiliki peran penting untuk meluruskan pemahaman yang keliru, memberikan konteks terhadap suatu hukum, serta membimbing peserta didik sesuai kaidah keilmuan. Hal inilah yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI maupun internet.

AI merupakan teknologi yang dapat membantu manusia memperoleh informasi dengan cepat. Namun, dalam mempelajari ilmu agama, teknologi sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai guru utama. Masyarakat tetap dianjurkan bertanya kepada ulama, kiai, atau ustaz yang memiliki kompetensi agar ilmu yang diperoleh benar, utuh, dan dapat diamalkan dengan baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....