Makan Berlebihan atau Kurang Bergerak, Mana Lebih Berpengaruh?

  • 26 Agt 2026 15:33 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Ketika membahas obesitas, dua hal yang sering muncul adalah terlalu banyak makan dan kurang bergerak. Keduanya memang memiliki hubungan erat dengan peningkatan berat badan, tetapi persoalannya tidak sesederhana memilih salah satu. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kelebihan berat badan dan obesitas terjadi ketika energi yang masuk ke tubuh dalam jangka panjang lebih besar daripada energi yang digunakan. Artinya, pola makan dan aktivitas fisik sama-sama berperan dalam menjaga keseimbangan energi tubuh.

Pola makan menjadi salah satu faktor penting karena jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi menentukan banyaknya energi yang masuk ke tubuh. Makanan dan minuman yang tinggi gula, lemak, serta padat energi dapat membuat asupan energi meningkat dengan cepat. WHO mencatat bahwa perubahan pola makan masyarakat dalam beberapa dekade terakhir turut ditandai dengan meningkatnya konsumsi makanan yang tinggi energi, sementara konsumsi buah, sayuran, dan sumber serat masih perlu ditingkatkan.

Namun, asupan makanan bukan satu-satunya persoalan. Kebiasaan kurang bergerak juga membuat energi yang digunakan tubuh menjadi lebih sedikit. Perubahan cara bekerja, penggunaan kendaraan, urbanisasi, serta meningkatnya aktivitas yang dilakukan sambil duduk membuat banyak orang menghabiskan lebih banyak waktu dalam kondisi kurang aktif. Ketika pola tersebut berlangsung terus-menerus dan tidak diimbangi dengan pengaturan asupan energi, risiko kenaikan berat badan dapat meningkat.

Lalu, mana yang lebih berpengaruh? Jawabannya tidak bisa disamaratakan untuk setiap orang. Obesitas merupakan kondisi yang kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola makan, aktivitas fisik, faktor genetik, kondisi lingkungan, faktor psikososial, hingga penggunaan obat-obatan atau kondisi medis tertentu. Karena itu, menyebut obesitas hanya disebabkan oleh kebiasaan makan berlebihan atau kemalasan untuk bergerak dapat menyederhanakan persoalan yang sebenarnya jauh lebih luas.

Yang lebih penting adalah melihat keduanya sebagai bagian dari gaya hidup yang saling berkaitan. Mengatur pola makan tanpa melakukan aktivitas fisik tetap memiliki keterbatasan, begitu pula sebaliknya. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik secara teratur dan menerapkan pola makan yang sehat dengan memperbanyak makanan seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, serta biji-bijian utuh, sekaligus membatasi makanan dan minuman tinggi gula serta makanan yang padat energi.

Pada akhirnya, menjaga berat badan bukan tentang mencari siapa yang paling salah antara makanan dan kurang bergerak. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membangun kebiasaan yang lebih seimbang dan realistis. Mulai dari memilih makanan dengan lebih bijak, mengurangi minuman berpemanis, memperbanyak aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, hingga mengurangi waktu duduk yang terlalu lama. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Obesitas juga perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan, bukan sekadar persoalan penampilan atau kemauan seseorang. WHO menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan penyakit kronis yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dengan pemahaman tersebut, upaya menjaga berat badan sebaiknya dilakukan melalui kebiasaan sehat dan dukungan lingkungan, bukan dengan menyalahkan diri sendiri maupun orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....