Lima Tahun Menunggu Pembeli Madu di Pinggir Jalan
- 10 Agt 2026 09:28 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Setiap hari, jalur nasional Sumenep–Surabaya tak pernah sepi dari kendaraan yang melintas. Namun, di kawasan Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sumenep, ada satu pemandangan sederhana yang kerap menarik perhatian. Di tepi jalan, seorang lelaki lanjut usia setia menunggu pembeli madu ternak yang dijajakannya.
Lelaki itu adalah Ilyas, 65 tahun, warga Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep. Di tengah usia yang tak lagi muda, ia masih tekun menjalani usaha menjual madu lebah ternak. Lima tahun sudah ia bertahan dengan usaha tersebut, setelah sebelumnya beberapa kali berpindah tempat untuk mencari lokasi yang dianggap lebih menjanjikan.
Sebelum menetap di pinggir jalur nasional tersebut, Ilyas mengaku sudah tiga kali berpindah tempat berjualan. Salah satunya adalah kawasan Jalan Lingkar Barat, Babalan, Sumenep. Dari pengalaman berpindah-pindah itu, akhirnya ia menemukan tempat yang dirasa cukup cocok di Desa Nambakor.
“Saya menekuni jualan ini sudah lima tahun. Dan akhirnya menetap di jalan ini,” kata Ilyas, Senin 10 Agustus 2026. Setiap hari, ia membuka lapaknya sederhana di sisi jalan, berharap pengendara yang melintas bersedia berhenti untuk membeli madu yang dibawanya.
Meski berjualan di pinggir jalan nasional, Ilyas tetap berusaha menjaga hubungan baik dengan warga sekitar. Ia mengaku terlebih dahulu meminta izin kepada pemilik rumah terdekat yang berada di wilayah Desa Nambakor. Baginya, kenyamanan dengan warga sekitar menjadi hal penting selama menjalankan usaha.
Madu yang dijual Ilyas tersedia dalam beberapa pilihan kemasan. Harganya cukup terjangkau bagi pembeli, mulai Rp25 ribu, Rp50 ribu, hingga Rp100 ribu. Dalam sehari, biasanya hanya dua sampai tiga botol madu yang berhasil terjual. Penghasilan yang tidak selalu besar membuatnya merasa belum mampu menyewa tempat khusus untuk berjualan.
“Kalau sehari laku antara dua sampai tiga botol saja, jadi kalau tempatnya sewa kayaknya tidak nutut,” ujarnya. Karena itu, berjualan di pinggir jalan menjadi pilihan paling realistis baginya untuk tetap mendapatkan penghasilan tanpa terbebani biaya sewa.
Menurut Ilyas, lokasi tersebut juga memiliki suasana yang cukup mendukung. Pepohonan cemara tumbuh di sekitar jalan, sementara di sisi kiri dan kanan terdapat tambak garam. Angin yang berembus membuat udara terasa sejuk, meski bagi dirinya yang sudah berusia lanjut, berada seharian di tempat terbuka terkadang membuat tubuh terasa kurang nyaman.
Pilihan menjual madu bukan semata-mata karena mengejar keuntungan. Setelah pensiun sebagai pegawai Puskesmas Kecamatan Bluto, Ilyas merasa tetap membutuhkan kegiatan untuk menyambung penghasilan. “Pilihan jualan ini mau tidak mau harus dilakukan selaku pensiunan. Karena tidak ada pekerjaan lain,” katanya.
Madu yang dijualnya pun bukan hasil produksi sendiri. Ilyas membeli langsung dari sejumlah peternak lebah di Sumenep, di antaranya dari wilayah Kalianget dan Rubaru. Dari usaha sederhana yang dijalaninya itu, ia mengaku dalam sebulan terkadang hanya memperoleh sekitar Rp2 juta. Jumlah tersebut mungkin tidak besar, tetapi bagi Ilyas, penghasilan itu cukup untuk dijalani dengan penuh rasa syukur. “Insyaallah cukup dan saya menyukurinya,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....