Merintis Bisnis Donat dari Modal Minim
- 19 Jan 2026 14:02 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Memulai usaha tidak selalu berjalan lurus dan mulus. Hal itulah yang dialami Nur Khadijah, atau yang akrab disapa Hetty Halki, owner Donat Makerrong. Donat Makerrong kini dikenal lewat ciri khas donat unyil atau baby donut. Perjalanan bisnisnya justru penuh lika-liku sebelum akhirnya menemukan fokus di dunia kuliner.
Sebelum dikenal sebagai pengusaha donat, Hetty mengawali langkah bisnisnya sejak tahun 2006 dengan usaha pengisian pulsa. Pada 2008, ia mencoba peruntungan baru dengan berjualan aksesoris dan kaos bertema Madura.
Sayangnya, usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang konsisten. Tidak berhenti di situ, Hetty kembali beradaptasi dengan membuka jasa pemesanan kue ulang tahun. Dari sinilah benang merah kecintaannya pada dunia baking semakin kuat. Membuat kue memang sudah menjadi hobinya sejak lama.
“Tapi memang dari dulu hobi bikin kue,” katanya Senin, 19 Januari 2025.
Fokus pada bisnis donat mulai benar-benar ia tekuni sejak akhir 2018. Pada masa awal, tantangan terbesar adalah mencari pelanggan. Ia memulai dengan cara sederhana, meminta teman-teman yang datang ke rumah untuk mencicipi donat buatannya.
Keberanian untuk benar-benar menjual donat secara serius akhirnya diambil pada Desember 2018. Sejak saat itu, Donat Makerrong perlahan namun pasti terus berjalan hingga sekarang. Keunikan Donat Makerrong terletak pada ukurannya yang kecil dan lucu, yang dikenal sebagai baby donut, sehingga mudah diingat oleh pelanggan.
Dalam menjalankan usaha, Hetty menekankan bahwa promosi adalah kunci utama. Menurutnya, pelaku usaha tidak boleh cepat menyerah hanya karena dagangan belum laku dalam sehari.
“Jangan bosan promosi. Promosi itu nomor satu. Hari ini nggak ada pembeli, mungkin dia lagi tidak ingin donat. Siapa tahu besok,” ujarnya.
Menariknya, usaha Donatnya dirintis dengan modal yang sangat minim. Modal awal bahkan tidak sampai seratus ribu rupiah. Bahan baku dibeli secara ecer, seperti tepung dan mentega masing-masing satu kilogram. Peralatan pun masih sangat sederhana, mengandalkan tenaga manual tanpa mesin.
Dari pengalamannya, Hetty berpesan agar pelaku usaha pemula tidak terburu-buru memproduksi dalam jumlah besar. Produksi sebaiknya dimulai dari skala kecil untuk melihat respons pasar. Jika produk sudah diterima konsumen, barulah produksi ditingkatkan secara bertahap.
“Kita buat sedikit dulu, lihat pasarnya. Kalau sudah diterima, baru dinaikkan pelan-pelan,” ucapnya.
Kisah Nur Khadijah menjadi bukti bahwa usaha rumahan bisa tumbuh besar ketika dijalani dengan kesabaran, konsistensi, dan semangat pantang menyerah. Dari dapur rumah, Donat Makerrong kini bisa menjadi inspirasi bagi banyak pelaku usaha kecil untuk berani memulai, sekecil apa pun langkah awalnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....