Mamaca, Tradisi Madura Sarat Nilai Budi Pekerti

  • 20 Mei 2026 15:14 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Pak Matrogo menegaskan tradisi Mamaca di Madura bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya yang penuh pesan moral dan nilai keagamaan. Tradisi tersebut hingga kini masih bertahan di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.

Budayawan asal Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep itu menjelaskan, awal mula Mamaca berkembang dari kegiatan pengajian masyarakat tempo dulu. Agar suasana tidak monoton, masyarakat kemudian menyisipkan seni tembang sebagai hiburan sekaligus media dakwah.

“Awalnya bagi orang tua terdahulu itu belum ada Mamaca. Itu mengumpulkan masyarakat dengan semacam pengajian. Tapi untuk menghibur, ya lewat seni suara tembang Mamaca,” ujar Pak Matrogo saat diwawancarai di sela-sela acara mamaca.

Menurutnya, Mamaca tetap lestari karena telah menjadi bagian dari ritual masyarakat Madura, terutama dalam acara selamatan rumah, peringatan keagamaan, hingga tradisi tujuh bulanan atau meret kandung.

Dalam pelaksanaannya, Mamaca biasanya membacakan kisah-kisah bernuansa Islami, seperti riwayat Nabi Yusuf maupun sejarah Islam lainnya. Tradisi tersebut juga diyakini mengandung banyak pelajaran tentang kehidupan dan akhlak.

“Tujuannya sebenarnya membentuk karakter budaya atau budi pekerti. Kata ulama itu akhlakul karimah,” katanya.

Pak Matrogo menjelaskan, Mamaca juga memiliki unsur simbolik dalam setiap ritualnya. Misalnya pada tradisi tujuh bulanan terdapat kelapa muda bertuliskan aksara Carakan Madura dan huruf Arab sebagai simbol harapan agar anak kelak memahami agama tanpa meninggalkan budaya daerah.

Selain itu, Mamaca memiliki keunikan tersendiri karena menggunakan bahasa Jawa kuno yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Madura oleh pemakna.

“Indahnya Mamaca di Madura itu ada penerjemahnya. Karena Mamaca itu ada guru suara dan guru bilangan, jadi pemakna diperlukan untuk memperjelas arti,” jelasnya.

Meski demikian, Pak Matrogo mengakui tantangan terbesar pelestarian Mamaca saat ini adalah menumbuhkan minat generasi muda. Kehadiran media sosial dan hiburan digital membuat anak muda lebih tertarik pada tontonan modern dibanding mempelajari tradisi lama.

Namun, ia optimistis Mamaca tetap dapat bertahan apabila terus dikenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, perkembangan teknologi justru bisa dimanfaatkan untuk mempermudah proses belajar tradisi tersebut.

“Saya menghendaki budaya Mamaca ini tidak sampai punah. Dalam cerita-cerita Tembang Mamaca sebenarnya banyak pesan, terutama budi pekerti, cara beribadah, dan adat,” pungkasnya.







Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....