Menjaga Keseimbangan antara Amal Ibadah dan Rahmat Ilahi
- 01 Okt 2026 07:21 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Menjalankan ketaatan dan ibadah secara istikomah merupakan kewajiban setiap hamba. Namun, seorang muslim diingatkan untuk tidak terlena dan terlalu merasa aman hanya dengan mengandalkan amalan yang telah dilakukan. Ustazah Wildiya Nushaifi, Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Kabupaten Sumenep, mengatakan mengandalkan amal secara berlebihan tanpa berharap pada rahmat Allah justru dapat menjauhkan seseorang dari hakekat penghambaan yang sejati.
“Sesuai ajaran Islam dan nasihat Ibn 'Atha'illah as-Sakandari, salah satu tanda orang yang terlalu bergantung pada amal adalah berkurangnya rasa harap saat tergelincir dalam dosa,” ujarnya dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Sumenep, Kamis, 1 Oktober 2026.
Padahal, menurutnya Rasulullah saw. telah menegaskan tidak ada seorang pun yang masuk surga semata-mata karena amalnya, melainkan karena kasih sayang dan rahmat Allah. Hal ini menunjukkan pentingnya meletakkan niat ibadah sebagai wujud kepatuhan, bukan klaim jaminan keselamatan semata.
Kelemahan mengandalkan amal tercermin dalam kisah seorang ahli ibadah kaum Bani Israil yang beribadah selama 500 tahun. Ketika ia menuntut masuk surga karena amalnya, Allah menimbang antara ibadah panjang tersebut dengan nikmat dikaruniai sebelah mata untuk melihat, ternyata jauh lebih berat nilai mata tersebut.
“Kisah ini menjadi pelajaran berharga bahwa amal manusia tidak akan pernah cukup untuk membalas seluruh nikmat-Nya tanpa adanya rahmat Ilahi,” katanya menutup penjelasan.
Oleh karena itu, umat Islam diimbau untuk menjalankan kewajiban ibadah secara seimbang tanpa terjebak kesombongan spiritual. Beribadah merupakan bentuk ketundukan, sementara keselamatan di dunia dan akhirat tetap bergantung pada rahmat dan pengampunan Allah Swt.. Sikap ini hendaknya dijaga agar terhindar dari sifat ujub dan merasa lebih baik dari orang lain.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....