Sejarah Hari Aksara Internasional: Soroti Persoalan Buta Huruf di Dunia
- 07 Sep 2026 19:30 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Hari Aksara Internasional diperingati setiap 8 September. Peringatan ini bertujuan mengingatkan masyarakat dunia mengenai pentingnya kemampuan literasi sekaligus mendorong upaya pemberantasan buta huruf.
Melansir dari laman UNESCO, pada 2026, Hari Aksara Internasional memasuki peringatan ke-60 dengan tema “Literacy for people, the planet and prosperity”. UNESCO menyebut peringatan tahun ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali kemajuan literasi, memahami tantangan yang masih ada dan yang baru muncul, serta membentuk agenda literasi di masa depan. Perayaan global dijadwalkan berlangsung pada 8–9 September 2026 di Meksiko.
Sejarah Hari Aksara Internasional tidak terlepas dari persoalan buta huruf yang menjadi perhatian dunia. Melansir dari laman Ruang Guru, hingga 1965 masih terdapat sekitar 350 juta orang di dunia yang mengalami buta huruf. Kondisi tersebut mendorong munculnya perhatian internasional terhadap pentingnya literasi bagi masyarakat.
Pada 8 September 1965, UNESCO menggelar konferensi dunia di Teheran, Iran, dengan tajuk World Conference of Ministers of Education on the Eradication of Illiteracy. Dalam konferensi tersebut, Pemerintah Republik Iran mengusulkan agar UNESCO memberikan penghargaan kepada pihak-pihak yang berjasa dalam perjuangan melawan buta huruf.
Usulan tersebut kemudian mendapat persetujuan UNESCO pada 1966. UNESCO menetapkan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional atau International Literacy Day. Penetapan tersebut menjadi langkah untuk meningkatkan perhatian dunia terhadap persoalan buta huruf dan pentingnya literasi.
Hari Aksara Internasional untuk pertama kalinya diperingati oleh masyarakat internasional pada 1967. Sejak saat itu, peringatan tersebut dilaksanakan setiap tahun. UNESCO juga memberikan penghargaan kepada pihak yang dinilai berjasa dalam upaya pemberantasan buta huruf.
Perhatian terhadap literasi kemudian semakin berkembang. Pada 1990, pentingnya literasi kembali mendapat sorotan dalam konferensi dunia Education for All yang berlangsung di Jomtien, Thailand. Selanjutnya, pada 2015, literasi menjadi salah satu bagian penting dalam tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) bidang pendidikan.
Seiring perkembangan teknologi digital, cakupan Hari Aksara Internasional juga berkembang. Sejak 2017, peringatan ini turut menyoroti keterampilan literasi digital. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan di era digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....