"Quiet Cracking", saat Semangat Kerja Perlahan Menghilang
- 21 Jul 2026 19:26 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Ada masa ketika seseorang tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugas, dan terlihat baik-baik saja. Namun, di balik rutinitas itu, semangat untuk bekerja perlahan menghilang. Tidak ada pengunduran diri, tidak selalu ada penurunan kinerja yang mencolok, tetapi rasa lelah, tidak puas, dan kehilangan motivasi terus menumpuk. Kondisi ini kini dikenal dengan istilah quiet cracking.
Berbeda dengan quiet quitting yang biasanya dikaitkan dengan keputusan untuk hanya bekerja sesuai batas minimum, quiet cracking menggambarkan kondisi ketika seseorang secara perlahan kehilangan keterikatan emosional dengan pekerjaannya. Mengutip Society for Human Resource Management atau SHRM, fenomena ini dapat ditandai dengan rasa tidak puas yang menetap, tekanan emosional, hingga kelelahan, sementara pekerja tetap bertahan dalam pekerjaannya.
Menurut survei TalentLMS terhadap 1.000 pekerja di Amerika Serikat, 54 persen responden mengaku mengalami setidaknya satu bentuk quiet cracking. Sebanyak 20 persen di antaranya mengalaminya secara sering atau terus-menerus. Fenomena ini dapat muncul karena minimnya peluang berkembang, kurangnya apresiasi, komunikasi yang buruk, tekanan kerja, hingga ketidakpuasan yang berlangsung dalam waktu lama.
Masalahnya, quiet cracking sering tidak langsung terlihat. Pekerja mungkin masih menyelesaikan tugas dan hadir seperti biasa, tetapi mulai kehilangan antusiasme, jarang menyampaikan ide, menarik diri dari lingkungan kerja, dan merasa pekerjaannya tidak lagi memiliki arah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas dan meningkatkan keinginan untuk meninggalkan pekerjaan.
Bagi pekerja, mengenali perubahan tersebut menjadi langkah awal yang penting. Komunikasi terbuka dengan atasan, mengevaluasi beban kerja, mencari peluang pengembangan diri, dan membangun kembali hubungan dengan rekan kerja dapat membantu mengatasi rasa jenuh. Sementara bagi organisasi, masalah ini perlu dilihat sebagai persoalan lingkungan kerja dan komunikasi, bukan semata-mata sebagai persoalan motivasi individu.
Quiet cracking menunjukkan bahwa seseorang bisa tetap bekerja tanpa benar-benar merasa terhubung dengan pekerjaannya. Karena itu, ketika semangat kerja mulai hilang secara perlahan, perubahan tersebut perlu diperhatikan sebelum rasa tidak puas berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....