Mengapa Sidik Jari Setiap Orang Berbeda?
- 23 Mei 2026 11:31 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Sidik jari telah lama digunakan sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi seseorang. Keunikan pola sidik jari membuat hampir tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama. Menariknya, para ilmuwan menyebut bahwa hingga kini faktor yang memengaruhi terbentuknya pola sidik jari belum sepenuhnya dipahami.
Sidik jari terbentuk dari pola tonjolan kulit yang dikenal sebagai dermatoglyphs pada ujung jari. Pola serupa juga ditemukan pada jari kaki, telapak tangan, dan telapak kaki. Secara umum, pola sidik jari terbagi menjadi tiga jenis utama, yaitu pusaran (whorl), lengkungan (arch), dan lingkaran (loop). Meskipun bentuk dasarnya dapat terlihat mirip, detail pola yang dimiliki setiap individu tetap berbeda.
Melansir dari laman MedlinePlus Genetics, pola dermatoglyphs mulai berkembang sejak janin berada di dalam kandungan. Proses pembentukan dimulai pada bulan ketiga perkembangan janin dan biasanya telah terbentuk sempurna pada bulan keenam kehamilan. Setelah terbentuk, pola tersebut akan bertahan sepanjang hidup seseorang dan tidak mengalami perubahan.
Para peneliti meyakini bahwa ukuran, bentuk, dan jarak antar garis pada sidik jari dipengaruhi oleh faktor genetik. Berbagai gen diduga terlibat dalam proses ini, sehingga pola pewarisannya tidak sesederhana sifat-sifat tertentu yang ditentukan oleh satu gen saja. Gen yang mengatur perkembangan lapisan kulit serta jaringan di bawahnya, seperti otot, lemak, dan pembuluh darah, diperkirakan memiliki peran dalam pembentukan pola sidik jari.
| Baca juga: Beras Dicuci Sampai Bening Lebih Sehat? |
Meski demikian, faktor genetik bukan satu-satunya penentu. Lingkungan di dalam rahim juga memengaruhi detail-detail kecil pada pola sidik jari. Kondisi perkembangan janin, termasuk berbagai faktor biologis yang terjadi selama masa kehamilan, turut membentuk karakteristik unik pada setiap individu. Inilah sebabnya tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari identik.
Bahkan, pasangan kembar identik yang memiliki susunan DNA sama tetap memiliki sidik jari yang berbeda. Perbedaan tersebut muncul karena adanya pengaruh faktor perkembangan selama masa janin yang tidak sepenuhnya sama antara satu individu dengan individu lainnya. Fakta ini menjadi salah satu bukti bahwa sidik jari tidak hanya ditentukan oleh gen, tetapi juga oleh lingkungan tempat janin berkembang.
Hingga saat ini, hanya sedikit gen yang diketahui berhubungan langsung dengan pembentukan dermatoglyphs. Salah satu petunjuk datang dari kondisi langka yang disebut adermatoglyphia, yaitu keadaan ketika seseorang tidak memiliki sidik jari. Kondisi tersebut diketahui disebabkan oleh mutasi pada gen SMARCAD1. Meski demikian, para peneliti masih terus mempelajari peran gen tersebut untuk memahami lebih jauh proses pembentukan sidik jari pada manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....