Mikroagresi di Tempat Kerja yang Merusak Karir
- 08 Mar 2026 09:31 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID - Sumenep: Komentar kecil yang merendahkan saat rapat seringkali dianggap sepele. Padahal, tindakan itu bisa termasuk mikroagresi di tempat kerja.
Istilah mikroagresi diperkenalkan oleh psikolog Derald Wing Sue dari Columbia University. Konsep ini menggambarkan perilaku halus yang meremehkan atau "meminggirkan" orang lain. Biasanya terjadi tanpa permusuhan yang terlihat jelas.
Laman Her World menyebut, bentuk perlakuan mikroagresi di kantor bisa sangat beragam. Mulai dari komentar sinis hingga meragukan kompetensi seseorang. Bahkan pengucilan sosial dan pujian bernada sindiran juga termasuk mikroagresi.
| Baca juga: Kesehatan Mental Buruh juga Perlu Dilindungi |
Menariknya, perilaku ini tidak selalu datang dari atasan. Mikroagresi bisa terjadi antar rekan kerja atau bahkan dari junior kepada senior. Motivasinya sering dipicu rasa iri, tekanan kerja, atau persaingan karier.
Psikolog Stephanie Chan dari Annabelle Psychology, menjelaskan alasan konflik sering muncul secara tidak langsung. Banyak perempuan diajarkan menjaga harmoni dan menghindari konfrontasi terbuka. Akibatnya, konflik sering muncul lewat sindiran atau pengucilan.
Masalahnya, mikroagresi sering sulit dibuktikan. Tindakan tersebut tampak kecil dan mudah disangkal. Namun dampaknya dapat merusak kepercayaan diri dan reputasi profesional seseorang.
| Baca juga: Polsek Batuputih Gencarkan DDS dan Binluh |
Penelitian dari National University of Singapore menunjukkan mikroagresi sering berkaitan dengan permainan kekuasaan. Penilaian seperti “terlalu ambisius” atau “terlalu emosional” sering diarahkan pada perempuan. Label tersebut memperkuat stereotip lama di dunia kerja.
Situasi semakin rumit ketika perempuan berada di posisi kepemimpinan. Mereka sering merasa harus menyesuaikan diri dengan standar maskulin. Tanpa sadar, hal itu dapat memperkuat hierarki yang sama.
Para ahli menilai kepemimpinan memiliki peran penting dalam mengatasi masalah ini. Lingkungan kerja harus mendorong kolaborasi, bukan persaingan tidak sehat. Pendekatan ini juga didukung oleh peneliti dari Warwick Business School.
Perubahan juga harus datang dari individu di tempat kerja. Menolak ikut menertawakan perilaku merendahkan bisa menjadi langkah awal. Budaya kerja yang sehat lahir dari solidaritas dan rasa saling mendukung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....