Alasan Unik di Balik Pendeknya Bulan Februari
- 04 Feb 2026 17:13 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Bulan Februari selalu menjadi fenomena unik dalam kalender yang kita gunakan saat ini. Februari tampil beda dengan hanya memiliki 28 hari, serta 29 hari pada setiap tahun kabisat. Mengapa sistem penanggalan dunia yang begitu terstruktur bisa menyisakan satu bulan yang terasa sangat singkat?
Menelusuri sejarahnya, struktur kalender kita ternyata berakar dari tradisi Romawi Kuno. Melansir dari laman Britannica, leluhur tertua dari kalender Gregorian awalnya hanya terdiri dari 10 bulan. Pada masa itu, terdapat kekosongan periode waktu yang cukup panjang di musim dingin yang tidak dimasukkan ke dalam penanggalan, sehingga total hari dalam setahun hanya mencapai 304 hari.
Perubahan besar terjadi ketika Raja Romawi, Numa Pompilius, memutuskan untuk menyelaraskan kalender tersebut dengan tahun lunar atau peredaran bulan. Raja kemudian menambahkan bulan Januari dan Februari ke dalam rangkaian kalender untuk menutup celah waktu yang hilang. Namun, penambahan ini tidak dilakukan secara sembarangan.
Dipengaruhi oleh kepercayaan dan spiritualitas masyarakat Romawi pada masa itu menyebabkan Februari memiliki jumlah hari yang sedikit. Orang Romawi kuno percaya bahwa angka genap merupakan pembawa sial. Untuk menghindari nasib buruk, Numa Pompilius bersikeras agar setiap bulan dalam kalendernya memiliki jumlah hari ganjil.
| Baca juga: Kapan Tepatnya Burung Mulai Siap Bertelur? |
Masalah muncul ketika Raja Numa ingin total hari dalam satu tahun mencapai angka ganjil, yaitu 355 hari (tahun lunar). Secara matematis, menjumlahkan 12 angka ganjil akan selalu menghasilkan angka genap. Agar total keseluruhannya tetap ganjil sesuai keinginannya, sang raja terpaksa harus mengorbankan satu bulan untuk memiliki jumlah hari genap.
Februari akhirnya dipilih sebagai "tumbal" matematika tersebut. Keputusan ini diambil karena pada saat itu Februari merupakan bulan yang didedikasikan untuk ritual penghormatan kepada orang mati dan pembersihan diri. Karena bulan tersebut sudah identik dengan suasana berkabung dan hal-hal yang dianggap kurang beruntung.
Orang Romawi tidak keberatan Februari memiliki 28 hari meski angka genap dianggap membawa kesialan. Meski kalender dunia berubah sejak reformasi Julius Caesar hingga tahun kabisat modern, Februari tetap 28 hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....