Sekolah Foodpreneur TEP UB, Ubah Potensi Pangan Lokal ke Gerakan Ekonomi Produktif

  • 19 Sep 2026 10:23 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, SORONG — Potensi pangan lokal di Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, mulai mendapat ruang baru untuk tumbuh menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui Program Ekspedisi Patriot 2026 Kementerian Transmigrasi, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya menghadirkan Sekolah Foodpreneur Pangan Lokal sebagai model pendampingan masyarakat berbasis potensi kampung.

Program ini diketuai oleh Dr. Eng. Elya Mufidah, S.Pi., MP, bersama anggota pelaksana Dina Aqilla Salsabila, Annisa Rosadilla, Virda Agfinasari Prayitno, Dian Sari, dan Izdihar Nabila. Tim mendampingi masyarakat di Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun, Distrik Klamono Raya, khususnya wilayah Klamono dan Malabotom, termasuk Kampung Wariyau, Wonosari, Malamoja, dan Malasigit.

Kegiatan pendampingan dilaksanakan secara bertahap mulai Agustus hingga September 2026. Rangkaian kegiatan mencakup sosialisasi, pelatihan produk, praktik produksi, pengemasan, hingga pendampingan masyarakat. Produk awal hasil pendampingan dipamerkan pada 15–16 September 2026.

Meski demikian, kegiatan ini akan terus berlanjut hingga November 2026 sesuai target dalam silabus dan kurikulum yang telah disusun sebagai panduan program.

Sekolah Foodpreneur dirancang bukan sekadar pelatihan membuat produk. Melalui program ini, masyarakat diajak membaca potensi bahan lokal, menjaga mutu, memahami keamanan pangan, menata formulasi resep, memperbaiki kemasan, menyusun label, menghitung biaya produksi, hingga mengenali peluang pasar.

Dari proses tersebut lahir lima produk pangan lokal bermerek SORASA, yaitu SORASA Saos Tomat, SORASA Sambal Bawang, SORASA Bumbu Tabur Cabai Daun Jeruk, SORASA Sambal Kepiting Papua, dan SORASA Abon Jantung Pisang. Produk-produk ini mengangkat potensi lokal seperti tomat, cabai, daun jeruk, kepiting bakau, dan jantung pisang menjadi produk yang lebih bernilai, beridentitas, dan layak jual.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, pendampingan ini juga mendorong terbentuknya 10 kelompok UMKM SORASA di masyarakat. Kelompok tersebut diharapkan menjadi embrio usaha pangan lokal yang mampu meneruskan produksi, menjaga standar mutu, serta mengembangkan produk sesuai potensi bahan baku di kawasan masing-masing.

Keunggulan program ini terletak pada modelnya yang komplet dan dapat direplikasi. Tim menyiapkan kurikulum, silabus, modul pembelajaran, dan paket SOP sebagai pegangan masyarakat. Perangkat tersebut menjadi panduan agar proses belajar, produksi, pengemasan, pelabelan, dan pendampingan dapat diulang, tidak hanya berjalan saat tim hadir di lapangan.

Selain perangkat pembelajaran, tim juga menyerahkan dukungan alat dan bahan produksi, seperti food dehydrator, blender, penghalus bumbu kering, kompor, sealer, kemasan, stiker label, bahan produksi selama program berlangsung hingga November, serta perlengkapan pendukung lainnya.

Kepala Bidang Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Papua Barat Daya, Ronald Noya, menyampaikan apresiasi atas kehadiran TEP UB di kawasan transmigrasi Klamono–Segun.

“Secara pribadi dan selaku Kepala Bidang Transmigrasi, saya sangat bersyukur atas kehadiran TEP UB yang berdampak langsung bagi masyarakat transmigrasi Klamono–Segun.

Tim Ekspedisi Patriot Kelompok 19 yang diketuai Dr. Eng. Elya dari UB ini memberikan sesuatu yang berbeda dan komplet sekali: paket pelatihan, pendampingan, bahkan model yang bisa direplikasi meskipun tim nanti sudah selesai programnya, sehingga mudah bagi kami mereplikasi dan melanjutkan program ini. Ini sangat kita butuhkan,” ujar Ronald Noya.

Kepala Distrik Klamono, Oktafianus Koli, juga menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini berhasil menarik antusiasme warga karena dikemas secara baik dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Program ini sangat keren. Baru kali ini saya melihat warga sangat antusias mengikuti kegiatan, karena pelatihan dan pendampingan ini dikemas dengan sangat baik oleh tim,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh jajaran Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sorong yang hadir dalam rangkaian kegiatan. Program ini dinilai sebagai paket pendampingan yang komplet dan bermanfaat bagi pengembangan UMKM di Kabupaten Sorong.

Sekolah Foodpreneur Pangan Lokal diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan selama Tim Ekspedisi Patriot berada di lokasi. Dengan dukungan dinas terkait, kepala distrik, kepala kampung, mitra lokal, serta terbentuknya kelompok UMKM SORASA, program ini diarahkan menjadi kegiatan produktif yang dapat terus berjalan setelah program selesai.

Dari kawasan transmigrasi Klamono–Segun, Sekolah Foodpreneur memberi pesan bahwa pangan lokal tidak cukup hanya dihasilkan. Ia perlu diberi nilai, dijaga mutunya, dibangun identitasnya, dan diantarkan menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat.

Dari potensi lokal, lahir produk bernilai. Dari kelas sederhana, tumbuh keberanian berusaha. Dari kerja bersama, semoga hadir kemandirian yang berkelanjutan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....