Dinas Lingkungan Hidup PBD Siapkan Rumah Maggot KELI Kelola Limbah Makanan MBG
- 12 Sep 2026 19:22 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong - Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya menyiapkan Rumah Maggot KELI (Keberlanjutan Lingkungan) sebagai salah satu solusi untuk mengelola limbah makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu mengatakan program MBG tidak hanya perlu memperhitungkan kebutuhan bahan baku makanan, tetapi juga sisa makanan yang dihasilkan setelah makanan dikonsumsi.
Menurutnya, biaya pengelolaan limbah tersebut perlu dimasukkan dalam proses pelaksanaan MBG sebagai biaya lingkungan atau biaya eksternalitas. “MBG memikirkan belanja bahan baku, tapi juga harus memikirkan biaya untuk mengolah limbah sisa dari MBG itu sendiri,” ujar Julian saat meninjau pengolahan sampah organik di Rumah Maggot KELI.
Julian mengatakan biaya tersebut nantinya dapat digunakan untuk membiayai pengelolaan sisa makanan MBG melalui Rumah Maggot KELI. Untuk itu, ia mendorong adanya kerja sama atau nota kesepahaman antara pelaksana program MBG dengan Rumah Maggot KELI. “Semua MBG harus bekerja sama dengan Rumah Maggot KELI untuk mengurai sisa makanan sehingga mengurangi gas metan,” katanya.
Ia menjelaskan, Rumah Maggot KELI menggunakan Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam untuk mengurai sampah organik. Prosesnya dimulai dari telur hingga menjadi maggot yang kemudian digunakan untuk mengurai sisa makanan.
Sisa makanan yang telah diurai maggot selanjutnya dapat menghasilkan pupuk. Maggot juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan, ayam, bebek dan ternak lainnya. Menurut Julian, konsep tersebut membuat sampah organik memiliki nilai tambah karena tidak berhenti sebagai limbah, tetapi kembali dimanfaatkan dalam siklus produksi.
“Nilai tambahnya banyak, dari pupuk bisa, jadi pakan ikan, ayam, bebek, telur, itik, semuanya. Tidak ada yang hilang di alam, energi dia hanya berputar saja,” ujarnya.
Julian juga menyoroti persoalan sampah organik sebagai salah satu sumber emisi gas metana. Karena itu, pengolahan sisa makanan dinilai penting dalam upaya mengurangi dampak lingkungan dan perubahan iklim.
Ia mengatakan DLH PBD saat ini fokus mendalami pengelolaan sampah organik, termasuk mengkaji kadar air dalam sampah organik dan pengaruhnya terhadap kinerja maggot. “Kami sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya lagi konsen dengan persoalan sampah organik, khususnya food waste atau sisa makanan,” katanya.
Di Rumah Maggot KELI, pengelola juga memiliki Bank Pakan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan bagi maggot. Bahan yang dapat dimanfaatkan antara lain sisa makanan dapur, makanan kedaluwarsa, roti, susu kedaluwarsa, ampas tahu, ampas sawit dan ampas kelapa.
Selain itu, tersedia maggot frozen yang dapat digunakan sebagai pakan ikan dan ternak. Maggot tersebut dijual dengan harga Rp10 ribu per kilogram, sementara pembelian di atas 20 kilogram dapat memperoleh harga Rp8.800 per kilogram.
Pengelola juga memanfaatkan proses fermentasi untuk mempercepat penguraian bahan organik. Sisa nasi dan sayuran difermentasi menggunakan EM4 dan molase sebelum diberikan kepada maggot.
Proses fermentasi dapat membuat bahan organik yang sebelumnya keras menjadi lebih lunak sehingga lebih cepat terurai. Bahan yang difermentasi juga dapat disimpan sebagai stok sebelum digunakan sebagai pakan maggot.
Julian mengatakan pengelolaan sampah organik melalui maggot juga dapat dikembangkan untuk kebutuhan rumah tangga. Ia bahkan mengambil bibit maggot untuk dimanfaatkan mengurai sampah makanan di rumah sebelum digunakan sebagai pakan ikan koi.
Julian menilai pengelolaan sampah organik dengan maggot dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi apabila dilakukan secara berkelanjutan.
Ia mendorong konsep tersebut terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah organik, menekan emisi gas metana, sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari limbah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....