Masyarakat Adat Raja Ampat hingga Amazon Perkuat Solidaritas Jaga Alam
- 24 Agt 2026 14:11 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Raja Ampat- Puluhan masyarakat adat dari berbagai wilayah berkumpul dalam Heyul Pelei Koranu Fyak (Jumpa Akbar Masyarakat Adat Raja Ampat) di Kampung Arborek, Raja Ampat. Pertemuan yang berlangsung selama tiga hari ini menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas masyarakat adat dalam menjaga ruang hidup, budaya, dan keanekaragaman hayati.
Kegiatan tersebut diselenggarakan Forum Gelar Senat Raja Ampat dengan dukungan Greenpeace Indonesia dan Institut USBA. Selain perwakilan dari 20 subsuku di Raja Ampat, pertemuan turut dihadiri masyarakat adat dari Sorong Selatan, Amazon, dan Sarawak, serta masyarakat terdampak industri nikel dari Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara, dan Desa Kawasi, Pulau Obi, Maluku Utara.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Kamis 20 Agustus 2026, dengan penyambutan para peserta oleh masyarakat Kampung Arborek. Tradisi mansorandak, cakalele, serta tambur suling menjadi bagian dari penyambutan. Perwakilan setiap subsuku kemudian memperkenalkan diri dan menceritakan pengalaman serta persoalan yang mereka bawa dari kampung masing-masing.
Ketua Dewan Adat Subsuku USBA, Charles Imbir, mengatakan pertemuan tersebut merupakan hasil dari proses konsolidasi internal masyarakat adat di Raja Ampat.
“Pertemuan di tempat ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi hasil dari serangkaian proses konsolidasi internal Masyarakat Adat di Raja Ampat. Perwakilan dari suku besar, yakni dari suku Maya dan suku Biak—baik dari tetua adat, perempuan, dan anak muda berhimpun untuk bicara tentang bagaimana kami bisa bersama-sama menjaga Raja Ampat dengan pengetahuan yang kami miliki,” kata Charles.
Menurutnya, pertemuan tersebut sekaligus menjadi upaya memperkuat persatuan masyarakat adat di Raja Ampat.
Dihari kedua Jumat 21 Augustus 2026, kegiatan dilanjutkan dengan forum dialog multipihak. Antropolog Papua, George Mentansan dan Amos Mambrasar, mengawali diskusi dengan membahas sejarah, identitas, serta berbagai persentuhan sosial yang membentuk masyarakat Raja Ampat saat ini.
Mereka juga mengulas kekayaan lanskap Raja Ampat yang mencakup pegunungan, pesisir, pulau-pulau kecil, hingga kawasan laut yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.
George Mentansan mengingatkan bahwa gugusan pulau kecil Raja Ampat memiliki kerentanan tinggi terhadap dampak krisis iklim dan eksploitasi sumber daya alam, termasuk aktivitas pertambangan.
Menurut dia, kerusakan lingkungan tidak hanya mengancam kehidupan manusia dan sektor pariwisata, tetapi juga keberlangsungan budaya masyarakat Raja Ampat.
Karena itu, menjaga lingkungan dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya mempertahankan kebudayaan.
“Kitong harus menjaga kebudayaan sebagai benteng terakhir penjaga alam Raja Ampat,” ujar George.
George mencontohkan berbagai pengetahuan tradisional masyarakat, seperti kalender ekologis pesisir, kawasan pamali, serta mitologi yang mengatur pengambilan ikan tertentu. Praktik-praktik tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari pengetahuan leluhur untuk menjaga keseimbangan alam dan mencegah kepunahan spesies.
Sementara itu Kepala Global Greenpeace untuk Kampanye Hutan Indonesia, Kiki Taufik, mengatakan perjuangan mempertahankan Raja Ampat menghadapi tantangan panjang.
Ia menyebut riset terbaru Greenpeace menunjukkan Raja Ampat masih menghadapi ancaman pertambangan, termasuk aktivitas tambang nikel yang masih berlangsung dan potensi pertambangan di masa depan.
“Sejak 2001 hingga 2023, Papua kehilangan hutan primer sekitar 722 ribu hektare,” kata Kiki.
Ia juga menyinggung rencana proyek strategis nasional di Papua bagian selatan untuk pembangunan food and energy estate dengan luasan sekitar 2,7 juta hektare. Menurutnya, dampak eksploitasi tidak hanya dirasakan di kawasan daratan, tetapi juga dapat memengaruhi sungai dan perairan.
“Perjuangan mempertahankan hutan Papua, termasuk Raja Ampat ini adalah perjuangan yang mungkin tidak selesai dalam waktu singkat, tetapi harus kita perjuangkan dalam waktu yang panjang, sebab Papua bukan tanah kosong,” ujarnya.
Dalam dua hari berikutnya, rangkaian Heyul Pelei Koranu Fyak dilanjutkan melalui forum musyawarah yang melibatkan tetua adat, perempuan, anak muda adat, dan anak-anak.
Pertemuan juga menjadi ruang bagi masyarakat adat dan masyarakat terdampak dari berbagai wilayah untuk saling bertukar pengalaman, memperkuat jaringan solidaritas, serta merumuskan langkah bersama dalam mempertahankan ruang hidup dan keanekaragaman hayati.
Dari Raja Ampat hingga Amazon, pertemuan ini memperlihatkan bahwa perjuangan masyarakat adat menghadapi ancaman terhadap lingkungan tidak berdiri sendiri. Pengalaman lintas komunitas menjadi modal untuk memperkuat gerakan perlindungan alam sekaligus mempertahankan pengetahuan dan kebudayaan yang diwariskan antargenerasi.(Rls)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....