Ketua Poksus DPRP PBD Franky Umpain Buka Pelatihan Jurnalis Merah Putih Angkatan I

  • 01 Okt 2026 00:02 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Ketua Kelompok Khusus (Poksus) Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) Papua Barat Daya, Franky Umpain, membuka Pelatihan Jurnalis Merah Putih Angkatan I di Aula Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Rabu, 30 September 2026.

Pelatihan yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Barisan Merah Putih (BMP) RI Kota Sorong berkolaborasi dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Papua Barat Daya tersebut diikuti puluhan pemuda-pemudi Orang Asli Papua (OAP).

Dalam sambutannya, Franky Umpain tidak berpidato seperti pejabat pada umumnya. Ia berbicara layaknya Bapak Adat yang menitipkan pesan tentang masa depan rumah besar bernama Papua.

Ia mengingatkan, tiga puluh tahun lalu Papua dikenal karena kayu dan tambang, sementara saat ini lebih banyak dikenal karena konflik dan air mata.

“30 tahun lalu dunia kenal kita karena kayu dan tambang. Hari ini dunia kenal kita karena konflik dan air mata. Saya tidak mau anak cucu kita 20 tahun lagi masih dikenal karena itu,” tegas Franky.

Menurut Frangky, jurnalis OAP memiliki peran strategis sebagai penjaga marwah Papua. Untuk itu, ia memperkenalkan tiga filosofi utama yang harus menjadi pegangan Jurnalis Merah Putih, yaitu :

1.SASI HOAX

Franky menganalogikan upaya menangkal berita bohong dengan tradisi Sasi di Raja Ampat yang melarang masyarakat mengambil hasil laut secara sembarangan.

“Di Raja Ampat, kita punya Sasi. Tidak boleh ambil ikan sembarangan. Jurnalis juga begitu! Punya Sasi Hoax! Jangan karna ingin viral, lalu kalian racuni kampung sendiri dengan berita bohong. Satu berita hoax bisa bakar satu kampung. Satu berita benar bisa selamatkan satu generasi,” jelasnya.

2.KITA BUKAN TUKANG LIPUT, KITA ADALAH MATA RUMAH

Jurnalis OAP disebut bukan sekadar tukang liput, tetapi merupakan mata rumah.

Franky menilai jurnalis OAP memiliki tanggung jawab untuk menjaga nyawa, harta dan martabat tanah Papua melalui tulisan yang dibuat.

“Kalian bukan wartawan Jakarta yang datang liput Papua lalu pulang. Kalian adalah Anak Papua! Mata Rumah! Tugas Mata Rumah itu jaga nyawa, jaga harta dan jaga martabat. Di situ terletak nama baik tanah ini. Jadi kalau kalian menulis, tulis Papua dengan cinta Indonesia. Karena darah kalian Merah dan tulang kalian Putih, tapi lahir di Tanah Papua! NKRI ini bukan milik orang lain, ini rumah yang kita jaga bersama!” ujarnya.

3.PENA ADALAH TIFA, TULISAN ADALAH UKIRAN

Pena diibaratkan sebagai tifa, sementara tulisan merupakan ukiran. Menurut Franky, tulisan jurnalis harus mampu membangun irama persatuan dan tidak sekadar menciptakan kegaduhan.

“Tifa kalau dipukul sembarang bunyinya berisik. Tapi kalau dipukul dengan irama, satu kampung goyang dan bersatu. Begitu juga PENA kalian. Jangan bikin berisik. Bikin irama persatuan,” tambahnya.

Franky juga mengungkapkan DPRP Papua Barat Daya sedang mendorong Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) tentang Hak Kekayaan Intelektual bagi OAP sebagai bagian dari upaya melindungi kearifan adat.

Ia menegaskan, pengawalan terhadap pembangunan Papua, termasuk pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus), membutuhkan peran jurnalis melalui karya jurnalistik.

“Dana Otsus triliunan. Tapi semua mati kalau tidak ada kalian yang kawal dengan tulisan. Masa depan Papua tidak akan ditulis di Senayan, tidak akan ditulis di Jakarta. Masa depan Papua ditulis di sini! Dari Sorong hingga Samarae! Oleh kalian! Hari ini!” pungkasnya.

Pelatihan Jurnalis PENA Merah Putih Angkatan I mengusung nilai Profesional, Etika, Nasionalis, Aktual (PENA) serta semangat Bersatu Untuk Keutuhan NKRI.

Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri dari PWI Papua Barat Daya, akademisi IAIN Sorong, dan Kesbangpol Papua Barat Daya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....