DLH PBD Dorong Klawalu Jadi Pilot Project Pengelolaan Sampah Berbasis Maggot

  • 11 Agt 2026 16:35 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya mendorong Kelurahan Klawalu, Distrik Sorong Timur, Kota Sorong, menjadi lokasi percontohan atau pilot project pengelolaan sampah berbasis maggot.

Rencana tersebut disampaikan Kepala DLH Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, saat mendampingi kunjungan warga Kelurahan Klawalu ke Rumah Maggot KELI (Keberlanjutan Lingkungan) di Kabupaten Sorong, Selasa, 11 Agustus 2026.

Julian mengatakan, pengelolaan sampah melalui budidaya maggot dapat menjadi solusi terhadap persoalan sampah organik sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Banyak sampah di mana-mana, khususnya sampah organik. Sehingga program nasional kita harus pilah sampah. Bapak Presiden juga sampaikan pengolahan sampah menjadi prioritas nasional,” ujar Julian.

Menurutnya, sampah organik dapat diolah melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), kemudian hasilnya dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan maupun ternak.

Pakan tersebut dapat digunakan untuk ikan lele, nila dan koi, serta ayam, ayam petelur, bebek dan itik. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi.

“Jadi ekonomi sirkularnya bisa kita dapat. Pakan ternak, pakan ayam hari ini melonjak naik. Kita punya sampah melimpah. Jadi dengan sampah kita olah menjadi pakan ikan, kemudian ayam, ayam petelur, bebek, itik, pupuk. Nah, ini peluang bisnis,” jelasnya.

Julian mengatakan, DLH Papua Barat Daya akan mendorong kerja sama dengan pemerintah Kelurahan Klawalu untuk mengembangkan konsep tersebut.

Ia menyebut terdapat rencana pengadaan 12 unit kendaraan roda tiga yang dapat mendukung kegiatan pengelolaan sampah. Dua unit di antaranya direncanakan diberikan kepada Kelurahan Klawalu.

“Kita akan bekerja sama dengan Lurah Klawalu sebagai pilot project. Kami tidak berjanji, tapi ada pengadaan motor 12 unit. Dua unit kami kasih langsung ke Pak Lurah,” katanya.

Julian berharap pemerintah kelurahan dapat menyiapkan lahan yang nantinya bisa dikembangkan menjadi lokasi pengelolaan sampah dan budidaya maggot dalam skala lebih besar.

Namun, ia menegaskan konsep tersebut juga dapat diterapkan masyarakat dalam skala rumah tangga, sehingga tidak seluruhnya harus menunggu pembangunan fasilitas besar.

Sementara itu, Lurah Klawalu, Y. Manyakori, menyambut baik rencana tersebut. Ia bahkan berharap pengelolaan berbasis maggot tidak hanya diterapkan di Klawalu, tetapi dapat dikembangkan ke kelurahan lainnya.

“Saya harapkan untuk Pak Kadis jangan di Kelurahan Klawalu saja, tetapi 41 kelurahan harus dilakukan ini,” ujar Manyakori.

Ia mengusulkan agar Klawalu terlebih dahulu dijadikan contoh sebelum konsep tersebut diperluas ke kelurahan lainnya.

“Kalau Bapak mau maju ke depan, mungkin Klawalu yang jadi contoh, biar fokus satu contoh dulu, supaya kelurahan 40 lainnya bisa menyesuaikan,” katanya.

Menurut Manyakori, pengelolaan sampah merupakan kebutuhan yang harus dilakukan setiap hari dan membutuhkan dukungan pemerintah agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pengelola Rumah Maggot KELI, Supendi, berharap kunjungan warga Klawalu dapat menjadi awal penerapan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan masyarakat.

Ia mendorong warga untuk menerapkan konsep ATM atau Amati, Tiru dan Modifikasi sesuai dengan kondisi di wilayah masing-masing.

“Kami berharap kehadiran kami di Provinsi Papua Barat Daya ini tidak cuma berdampak pada lingkungan, tapi dari segi pengetahuan kami bisa menularkan ilmunya juga,” ujar Supendi.

Melalui pengembangan pengelolaan sampah berbasis maggot, DLH Papua Barat Daya berharap sampah organik tidak lagi hanya menjadi beban lingkungan, tetapi dapat diubah menjadi sumber pakan, pupuk dan peluang usaha bagi masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....