Perkuat Pencegahan Kekerasan, Orang Tua Diimbau Aktif Dampingi Anak

  • 21 Jul 2026 13:17 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Provinsi Papua Barat Daya bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Papua Barat Daya menegaskan bahwa keluarga memegang peran utama dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Orang tua diminta lebih aktif mengawasi, mendidik, dan mendampingi anak, terutama di tengah pesatnya penggunaan gadget dan media digital.

Kepala Seksi Kualitas Hidup Perempuan dan Anak Dinas Sosial P3A Papua Barat Daya, Rosita Wanane, mengatakan pencegahan kekerasan terhadap anak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi harus dimulai dari lingkungan keluarga. "Orang tua memiliki kewajiban menjaga, mengasuh, mendidik, dan membimbing anak dengan nilai-nilai yang baik agar terhindar dari berbagai bentuk kekerasan maupun pengaruh negatif lingkungan" ungkapnya, saat dialog Sorong menyapa, Selasa, 21 Juli 2026.

Rosita juga menyoroti penggunaan gadget yang kini menjadi tantangan baru dalam pengasuhan anak. Tanpa pengawasan yang memadai, anak berpotensi terpapar berbagai konten negatif yang dapat memengaruhi perilaku dan perkembangan mereka. Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak, memberikan nasihat, serta mengawasi aktivitas mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Papua Barat Daya, dr. Sri Riyanti Windesi, menegaskan bahwa perlindungan anak harus dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama tempat anak bertumbuh.

"Kalau kita berbicara tentang perlindungan anak, itu hulunya dimulai dari keluarga. Ketika keluarga mampu memberikan pengasuhan yang baik, dilanjutkan dengan sekolah yang aman, ruang publik yang ramah anak, dan ruang digital yang sehat, maka risiko anak mengalami kekerasan juga akan lebih rendah," kata Sri Riyanti.

Ia menjelaskan perlindungan anak membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan hingga masyarakat. Menurutnya, persoalan yang dihadapi anak, termasuk stunting, tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan hak-hak dasar anak.

"Masalahnya kompleks dan saling berhubungan. Bermuara dari keluarga. Karena itu mari kita bersama-sama menyelesaikan berbagai persoalan anak di Kota Sorong dan Provinsi Papua Barat Daya," ujarnya.

Sri Riyanti juga mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget. Menurutnya, derasnya arus informasi di era digital dapat memengaruhi kesehatan mental anak apabila tidak disertai pendampingan.

Selain itu, ia menyoroti masih banyak anak yang berkeliaran hingga larut malam di Kota Sorong tanpa pengawasan orang tua. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko anak menjadi korban berbagai bentuk kekerasan.

"Saya lihat banyak sekali anak-anak yang masih berkeliaran malam. Perhatian orang tuanya ke mana Saat anak berada di luar, kemungkinan terjadi kekerasan sangat tinggi, baik kekerasan fisik, mental, bahkan seksual," tegasnya.

Dengan keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat dapat menjadi benteng utama dalam menekan angka kekerasan terhadap anak di Papua Barat Daya sekaligus mewujudkan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....