Elisa Kambu Dorong LSM dan Masyarakat Adat Papua Barat Daya Rebut Peluang Hibah

  • 18 Jun 2026 16:00 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Direktorat konversi ekosistem. kementerian Kelautan dan perikanan, mengelar Lokakarya pembelajaran Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act), yang digelar di Aston hotel, kamis 18 juni 2026.

Kegiatan diikuti Lembaga kemasyarakatan, masyarakat adat se-Papua Barat Daya, untuk penyusunan proposal hibah TFCCA.

Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, dalam sambutannya mendorong kelompok masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan komunitas lokal untuk lebih aktif memanfaatkan peluang pendanaan hibah Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) guna mendukung pelestarian ekosistem laut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Ini memang tugas negara dan tugas pemerintah. Tetapi pemerintah memiliki banyak urusan dan juga keterbatasan. Karena itu kita patut memberikan apresiasi kepada para mitra yang peduli dan ingin mendedikasikan sumber daya mereka untuk menjaga lingkungan kita, baik di laut maupun di darat,” ujarnya.

Elisa mengatakan masih minimnya jumlah penerima hibah dari wilayah Papua pada siklus pertama program TFCCA. Dari total 55 penerima hibah yang ditetapkan, hanya empat penerima yang berasal dari Bentang Laut Papua.

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama agar ke depan lebih banyak kelompok masyarakat Papua Barat Daya yang mampu memenuhi persyaratan dan memperoleh pendanaan.

“Tadi disampaikan ada 55 penerima, tetapi dari Bentang Papua hanya empat. Ini harus menjadi pertanyaan bersama. Apakah karena jumlah usulan yang kurang atau karena kualitas proposal yang belum memenuhi kriteria yang ditetapkan donor,” katanya.

Elisa menegaskan bahwa peluang masih terbuka lebar pada siklus hibah berikutnya. Ia bahkan berharap sebagian besar kelompok masyarakat yang mengikuti workshop dapat menjadi penerima hibah pada tahun mendatang.

“Saya berdoa supaya dari kelompok yang hadir saat ini, sebanyak mungkin bisa mendapatkan hibah. Kalau bisa semuanya. Tetapi itu harus dibarengi dengan kerja dan kesungguhan,” ujarnya.

Elisa juga mengingatkan bahwa tujuan utama program konservasi bukan semata-mata memenuhi administrasi, melainkan menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Administrasi itu penting, tetapi yang paling utama adalah dampak dan manfaat program bagi masyarakat serta keberlanjutan lingkungan. Jangan sampai kita hanya berorientasi pada administrasi, sementara tujuan besarnya tidak tercapai,” tegasnya.

Elisa Kambu menambahakan keberhasilan menjaga ekosistem laut Papua harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir. Ia berharap konservasi dapat menghasilkan manfaat ekonomi, pendidikan, dan kesehatan bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....