Raja Ampat Didorong Jadi Pusat Pembelajaran Konservasi Laut

  • 09 Feb 2026 17:48 WIB
  •  Sorong

RRI.Co.Id, Sorong-Kawasan Raja Ampat dan Bentang Laut Kepala Burung (Bird’s Head Seascape) terus menunjukkan perannya sebagai model pengelolaan konservasi laut yang sukses dan berkelanjutan. Hal ini ditandai dengan digelarnya pertemuan internasional dalam rangka perlindungan SISCAP yang diinisiasi oleh Conservation International (CI), dengan Indonesia sebagai mitra strategis.

Papua Program Director Konservasi Indonesia, Robert H. Mandosir, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut bertujuan sebagai ajang pembelajaran bagi tujuh negara yang hadir untuk mempelajari praktik terbaik pengelolaan laut yang telah berjalan baik di Raja Ampat dan Bentang Laut Kepala Burung.

“Wilayah Birhad SISCAP memiliki pengalaman pengelolaan yang sangat baik. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan telah berlangsung hampir lebih dari 20 tahun, dan itu menjadi kekuatan utama yang ingin dipelajari oleh tujuh negara ini,” ujar Robert.

Ia menambahkan, keberhasilan konservasi di Raja Ampat dan Bentang Laut Kepala Burung menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi jangka panjang mampu menjaga ekosistem laut sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Menurut Robert, pertemuan ini tidak hanya berhenti pada proses belajar, tetapi juga diarahkan untuk menyusun roadmap kerja sama bersama antara tujuh negara peserta dengan Pemerintah Indonesia. Kerja sama tersebut diharapkan berkembang menjadi kesepakatan antar pemerintah, khususnya dengan negara-negara di Afrika seperti Mozambik dan negara lain yang terlibat.

“Pemerintah Provinsi Papua Barat menjadi leading institution yang akan menghubungkan kerja sama ini. Kehadiran Wakil Gubernur menunjukkan bahwa kawasan ini adalah area strategis yang penting untuk dijaga bersama,” katanya.

Robert menyampaikan bahwa ke depan Raja Ampat dan Bentang Laut Kepala Burung ditargetkan menjadi center of excellence atau pusat pembelajaran konservasi laut tingkat global.

“Kita ingin menjadikan Raja Ampat dan Berhatsiske sebagai tempat orang dari seluruh dunia datang belajar tentang model pengelolaan konservasi. Ini bukan hanya soal menjaga, tapi juga mengelola agar memberi nilai tambah ekonomi bagi daerah dan masyarakat,” jelasnya.

Robert  menambahkan, Raja Ampat sejauh ini telah memenuhi berbagai standar internasional dan meraih sejumlah penghargaan dari UNESCO, sehingga memiliki kelayakan sebagai pusat pembelajaran konservasi. Namun, dukungan semua pihak tetap dibutuhkan agar pengelolaan kawasan ini berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang.

“Konservasi ke depan tidak hanya soal perlindungan, tetapi bagaimana kawasan ini dikelola untuk mendukung keberlanjutan ekologi sekaligus kesejahteraan ekonomi,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....