Miris, Nasib Timnas Italia Pemilik 4 Bintang Emas Piala Dunia

  • 19 Jul 2026 20:08 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Empat bintang emas yang tersemat anggun di atas logo dada jersi Gli Azzurri adalah simbol supremasi. Lambang agung itu menandakan bahwa Italia adalah salah satu penguasa tertinggi dalam sejarah sepak bola jagat raya, sejajar dengan Jerman dan hanya berada di bawah Brasil.

Namun kini, melihat empat bintang tersebut justru menghadirkan rasa miris dan ironi yang mendalam. Sang raksasa pemilik empat gelar juara dunia (1934, 1938, 1982, 2006) itu kini kembali terpuruk, terkubur dalam-dalam di bawah bayang-bayang kegagalan kualifikasi yang seolah tiada akhir.

Kegagalan tragis di babak play-off kualifikasi baru-baru ini saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina mematangkan status Italia sebagai penonton layar kaca untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Nasib tragis ini terasa sangat kontras jika dibandingkan dengan negara-negara raksasa Eropa lainnya yang terus menunjukkan kedigdayaan mereka di panggung dunia:

  • Spanyol: Negara yang baru pertama kali mencicipi takhta juara dunia pada tahun 2010 di Afrika Selatan ini terus menjaga konsistensi mereka di level elite global.

  • Prancis: Meski sempat gagal di laga-laga puncak, Les Bleus yang telah mengoleksi 2 gelar juara dunia (1998, 2018) saat ini tengah menikmati era emas yang luar biasa dengan skuad bertabur bintang yang selalu kompetitif di setiap edisi.

  • Portugal: Walau belum pernah sekalipun mengangkat trofi Piala Dunia, Seleção das Quinas membuktikan kelasnya dengan konsisten mengamankan tiket dan selalu menembus perhelatan terakbar sepak bola dunia tersebut tanpa absen.

Kondisi para rival ini berbanding terbalik 180 derajat dengan Italia. Sungguh miris melihat sang pemilik 4 bintang yang dalam tiga edisi terakhir justru selalu gagal dan terpuruk, membuat kebesaran nama mereka seolah lenyap saat kualifikasi dimulai.

Runtuhnya Mentalitas Juara

Keberhasilan Italia merengkuh trofi Euro 2020 lalu rupanya hanyalah fatamorgana yang menutup borok struktural sepak bola mereka. Alih-alih menjadi titik balik kebangkitan, trofi tersebut justru menjadi penutup mata dari kenyataan bahwa regenerasi pemain dan fondasi liga domestik mereka sedang tidak baik-baik saja.

Dalam laga-laga hidup-mati kualifikasi, Italia kehilangan karakteristik yang paling ditakuti lawan di masa lalu: ketenangan di bawah tekanan ekstrem. Menghadapi lawan yang di atas kertas berada di bawah level mereka, Gli Azzurri tampil gugup, miskin kreativitas, dan rapuh. Karakter Catenaccio yang dahulu kokoh bagai tembok karang kini runtuh, menyisakan kepasrahan saat peluit panjang berbunyi.

Deretan Catatan Kelam: Jejak Kemunduran Sang Raksasa

Kejatuhan ini tidak terjadi dalam semalam. Kegagalan demi kegagalan yang beruntun kini menumpuk menjadi catatan sejarah paling kelam yang pernah dialami sepak bola Italia:

  • Trisula Kegagalan Beruntun (2018, 2022, 2026): Italia mengukir sejarah kelam yang sangat memalukan sebagai mantan juara dunia pertama yang gagal menembus putaran final Piala Dunia dalam tiga edisi berturut-turut. Mereka tersingkir di babak play-off oleh tiga tim yang secara historis tidak diunggulkan: Swedia (2018), Makedonia Utara (2022), dan Bosnia & Herzegovina (2026).

  • 12 Tahun Menjadi Penonton: Terakhir kali publik dunia melihat jersi biru Italia berlari di rumput Piala Dunia adalah pada tahun 2014 di Brasil—itu pun mereka langsung gugur di fase grup. Ini berarti, minimal hingga tahun 2030, generasi baru pencinta sepak bola dunia tidak akan pernah melihat Italia berlaga di panggung terakbar tersebut.

  • Dua Dekade Tanpa Fase Gugur Piala Dunia: Mengingat Italia langsung angkat koper di fase grup pada 2010 dan 2014, serta absen di tiga edisi berikutnya, maka Italia tercatat belum pernah lagi merasakan atmosfer babak sistem gugur (knockout stage) Piala Dunia sejak malam final legendaris di Berlin pada tahun 2006 saat mereka mengangkat trofi keempatnya.

  • Hilangnya Magis Adu Penalti: Mentalitas baja Italia dalam adu penalti, yang dahulu menjadi senjata pamungkas mereka saat menjuarai Piala Dunia 2006 dan Euro 2020, kini sirna. Kekalahan adu penalti di Zenica membuktikan bahwa aspek psikologis para pemain telah runtuh digilas kecemasan sejarah.

Nasib Italia hari ini adalah alarm keras bagi seluruh insan sepak bola di Semenanjung Apennina. Empat bintang emas di dada mereka kini terasa seperti artefak museum—indah dipandang, namun hanya menjadi pengingat akan kejayaan masa lalu yang kini terasa begitu jauh dan terkubur dingin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....