Memahami Anxiety Disorder Melalui Kebiasaan yang Sering tak Terlihat
- 16 Jun 2026 13:11 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong – Anxiety Disorder adalah kondisi kesehatan mental dimana seseorang mengalami rasa cemas, takut atau khawatir berlebihan dan sulit dikendalikan. Berbeda dengan cemas biasa kondisi ini berlangsung lama dan cukup parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari seperti pekerjaan, tidur dan hubungan sosial.
Ada beberapa kebiasaaan pengidap Anxiety Disorder yang jarang disadari, disadur dari Social Connect :
Gerakan tubuh yang tidak bisa diam :
Menggoyangkan kaki, mengetuk-ngetuk jari, menggigit kuku, atau memainkan rambut tanpa sadar. Ini bukan sekedar kebiasaan. Tubuh sedang mencari cara melepaskan ketegangan yang dirasakan dari dalam dan ini salah satu tanda fisik anxiety yang paling sering terlewat.
Selalu minta kepastian berulang kali :
Pengidap anxiety butuh reassurance terus menerus karena otaknya sulit menerima bahwa situasi sudah aman, meski sebenarnya sudah.
Menghindari situasi tertentu secara halus :
Buka menolak terang-terangan, tapi selalu ada alasan untuk tidak datang, tidak coba atau tidak memulai. Ini bukan malas, tetapi otak yang sedang melindungi diri dari sesuatu yang dirasakannya mengancam, meski secara logika nggak berbahaya.
Replay percakapan setelah interaksi :
Selesai ngobrol langsung evaluasi. Ini disebut post-event processing kebiasaan otak pejuang anxiety yang terus menganalisis interaksi sosial lama setelah kejadian berlalu.
Sulit menikmati waktu santai. Rebahan harusnya enak tapi justru bikin gelisah. Waktu kosong tanpa aktivitas malah bikin pikiran makin berisik, sehingga pengidan anxiety cenderung terus menyibukkan diri agar tidak ‘ketemu’ pikirannya sendiri.
Sering sakit fisik tanpa sebab jelas :
Sakit kepala, perut tidak nyaman, otot tegang atau mudah lelah padahal tidak ada penyakit fisik yang terdeteksi. Kecemasan kronis mengaktifkan sistem stres tubuh terus-menerus dan ini dirasakan secara nyata di fisik bukan rekayasa.
Selalu membayangkan skenario terburuk :
sebelum sesuatu terjadi, sudah duluan memikirkan semua yang bisa salah. Ini bukan pesimis melainkan catastrophhizing. Respon otak yang terus mencari ancaman sebagai cara ‘melindungi diri’ tapi justru menguras energi setiap hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....