Fakta Iduladha: Sejarah Kurban Pertama Sampai Filosofi Pembagian Daging

  • 27 Mei 2026 04:54 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong — Hari Raya Iduladha selalu identik dengan gema takbir, ibadah haji, dan pelaksanaan kurban di berbagai penjuru dunia. Namun di balik tradisi tahunan yang masif ini, terdapat beberapa fakta historis, ilmiah, dan sosial budaya yang belum banyak disadari oleh masyarakat luas.

Berikut adalah lima fakta menarik seputar Hari Raya Iduladha yang berhasil dihimpun redaksi:

1. Arti Harfiah dari "Kembali Berkurban"

Secara etimologi, nama Idul Adha diambil dari bahasa Arab. Kata Id berasal dari aada-yauudu yang berarti "kembali", sedangkan Adha diambil dari kata udhiyah yang berarti "kurban" atau "hewan sembelihan". Jadi, esensi utama dari penamaan hari raya ini adalah momen bagi umat Muslim untuk kembali menghidupkan semangat berkurban.

2. Jejak Kurban Pertama dalam Sejarah Manusia

Meskipun ibadah kurban saat Iduladha sangat lekat dengan kisah kepatuhan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, syariat berkurban sebenarnya sudah ada sejak manusia pertama di bumi. Literatur Islam mencatat bahwa praktik kurban pertama kali dilakukan oleh dua putra Nabi Adam AS, yaitu Habil dan Qabil, sebagai bentuk persembahan dan ketaatan kepada Allah SWT.

3. Mengapa Disebut "Lebaran Haji"?

Di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, Idul Adha sering kali dijuluki sebagai Lebaran Haji atau Hari Raya Agung. Fakta di balik istilah ini adalah karena perayaannya bertepatan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci Mekah, tepatnya ketika para jemaah haji sedang melaksanakan wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah, sehari sebelum salat Id.

4. Keragaman Hewan Kurban di Berbagai Negara

Jenis hewan yang disembelih saat Iduladha sangat bergantung pada kondisi geografis dan jenis hewan ternak utama di wilayah tersebut.

Indonesia & Asia Tenggara: Dominan menggunakan sapi, kambing, kerbau, dan domba.

Negara Timur Tengah & Afrika Utara: Selain kambing, unta menjadi salah satu hewan kurban utama yang sangat lazim disembelih karena populasinya yang melimpah di wilayah gurun.

5. Dampak Sosial: Aturan Pembagian Daging "Sepertiga"

Berbeda dengan zakat yang spesifik diberikan untuk golongan miskin, aturan pembagian daging kurban mengajarkan solidaritas sosial yang unik. Berdasarkan syariat, daging kurban dibagi menjadi tiga bagian:

*Sepertiga pertama dialokasikan untuk orang yang berkurban (shahibul qurban) beserta keluarganya.

*Sepertiga kedua disedekahkan khusus kepada fakir miskin dan kaum duafa yang membutuhkan.

* Sepertiga terakhir dihadiahkan kepada kerabat, tetangga sekitar rumah, atau teman, tanpa memandang status sosial ekonomi mereka.

Melalui pembagian ini, Iduladha tidak hanya menjadi ritual ibadah vertikal kepada Sang Pencipta, melainkan juga instrumen sosial untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati hidangan makanan yang layak di hari kemenangan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....