Payung Sebagai Pelindung ternyata Memiliki Sejarah yang Unik

  • 25 Mei 2026 10:36 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID,Sorong — Di tengah cuaca ekstrem dan musim hujan yang tidak menentu, payung menjadi salah satu benda paling dicari. Alat pelindung portabel ini telah menyelamatkan miliaran orang dari guyuran air dan terik matahari selama berabad-abad.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa penemuan payung pertama di dunia menyimpan sejarah panjang yang unik, mulai dari inspirasi alam hingga dinamika sosial yang sempat memicu kontroversi di Eropa.

Dikutip History.com, Catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Tiongkok Kuno merupakan pionir di balik penciptaan payung pertama di dunia, yakni sekitar abad ke-11 Sebelum Masehi (SM).

Legenda lokal yang kuat mengaitkan penemuan ini dengan Lu Ban, seorang tukang kayu dan arsitek legendaris asal Tiongkok.

Kisah penemuannya bermula saat Lu Ban menyaksikan anak-anak berlindung dari hujan deras menggunakan daun teratai yang lebar. Terinspirasi dari struktur tulang daun tersebut, ia menciptakan kerangka dari bambu ringan dan menutupinya dengan kain sutra demi melindungi istrinya dari guyuran hujan.

Pada awal kemunculannya, payung kain sutra di Tiongkok sebenarnya lebih dominan digunakan sebagai pelindung matahari (parasol) sekaligus simbol status sosial kaum bangsawan.

Baru pada abad ke-2 Masehi, inovasi agar payung dapat menahan air hujan mulai berkembang. Pengrajin di Tiongkok mulai melapisi kain sutra atau kertas tebal dengan minyak tung (varnish alami) dan lilin cair. Lapisan minyak inilah yang menjadi cikal bakal teknologi kedap air (waterproof) pertama pada payung di dunia.

Saat payung mulai diperkenalkan ke benua Eropa melalui jalur perdagangan Yunani dan Romawi Kuno, benda ini menghadapi stigma sosial yang unik. Selama ratusan tahun, payung di Eropa dianggap murni sebagai aksesori fesyen dan pelindung estetika khusus wanita.

Pria yang membawa payung di ruang publik kerap dicemooh, dianggap tidak jantan, dan dinilai 'lemah' karena takut pada perubahan cuaca.

Stigma ini baru runtuh pada abad ke-18 berkat kegigihan seorang pelancong asal Inggris bernama Jonas Hanway. Selama hampir 30 tahun, Hanway menantang ejekan publik dengan konsisten berjalan membawa payung di tengah rintik hujan kota London. Tindakannya perlahan membuka mata masyarakat akan fungsi praktis benda tersebut. Sebelum Hanway wafat pada 1786, membawa payung telah menjadi hal yang lumrah dan dianggap cerdas bagi pria Inggris.

Bentuk payung mekanis yang praktis dan bisa dilipat seperti yang kita gunakan hari ini baru lahir pada abad ke-20. Pada tahun 1928, seorang penemu asal Jerman bernama Hans Haupt mematenkan desain payung saku (pocket umbrella).

Haupt yang mengalami cedera kaki kesulitan berjalan menggunakan tongkat sekaligus membawa payung panjang. Ia kemudian merancang payung berkerangka teleskopik yang bisa ditekuk hingga berukuran kecil agar mudah dimasukkan ke dalam tas saat tidak digunakan.

Dari selembar daun teratai hingga menjadi perangkat lipat otomatis yang canggih, payung telah menempuh evolusi lebih dari 3.000 tahun. Penemuan ini membuktikan bagaimana kebutuhan sederhana manusia untuk beradaptasi dengan alam mampu melahirkan inovasi yang bertahan lintas zaman.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....