Musim Kemarau di Sorong, Warga Keluhkan Sulit Air Bersih

  • 27 Agt 2026 06:10 WIB
  •  Sorong
Poin Utama
  • Musim kemarau di Kota Sorong tidak menghasilkan peningkatan permintaan air tangki yang signifikan karena pesanan tersebar ke berbagai penyedia jasa.
  • Selain PDAM, terdapat penyedia air tangki swasta yang memanfaatkan sumber air dari sumur bor untuk melayani permintaan masyarakat.

RRI.CO.ID, Sorong - Musim kemarau yang sedang terjadi di Kota Sorong ternyata tidak serta-merta mendongkrak jumlah permintaan air tangki secara signifikan. Hal ini disampaikan oleh sopir tangki air, Bayet, yang mengaku order air justru menyebar ke berbagai penyedia, tidak hanya bermitra dengan PDAM.

Bayet menjelaskan, saat ini penyedia jasa air tangki tidak hanya berasal dari PDAM, melainkan juga dari pihak luar yang menggunakan sumber air sumur bor. Kondisi ini membuat permintaan air tangki menjadi terbagi ke berbagai penyedia, sehingga tidak terjadi lonjakan order yang signifikan di satu titik.

"Sekarang tangki-tangki itu bukan dari PDAM saja yang bermitra, ada yang dari luar, jadi orderan itu menyebar," kata Bayet.

Bayet menambahkan, untuk wilayah tertentu yang biasa menggunakan air PAM, kondisi permintaan masih terpantau normal dan tidak mengalami peningkatan berarti meski musim kemarau tengah berlangsung.

"Kalau untuk khusus di sini kayaknya tidak ada peningkatan, biasa saja. Kalau di sini dia air PAM, kalau di luar sana air bor," kata Bayet.

Bayet menyebutkan, air yang bersumber dari sumur bor pada umumnya dijual dengan harga lebih murah dibandingkan air PDAM. Meski demikian, harga air tangki dapat mengalami kenaikan apabila lokasi pengantaran berada di wilayah dataran tinggi atau perbukitan, karena medan yang sulit dilalui kendaraan pengangkut.

"Harga air bisa naik kalau alamatnya itu naik gunung, karena kan mobil berat susah untuk naik gunung, jadi harganya juga beda dari biasanya," kata Bayet.

Sementara itu, dari sisi masyarakat, Salwa mengaku kesulitan mendapatkan air bersih sudah dirasakan sejak Juli lalu, seiring cuaca yang semakin panas di Sorong. Kondisi ini membuat penampungan air miliknya cepat berlumut sehingga pasokan air bersih di rumah semakin terbatas.

"Kekeringannya itu sudah terasa sejak bulan Juli kemarin, apalagi makin ke sini mataharinya makin panas. Gentong-gentong air jadi cepat berlumut, jadi susah air bersih," kata Salwa.

Salwa yang sehari-hari mengandalkan air PAM mengatakan, saat pasokan air dari PAM tidak lancar, Salwa harus membeli air tangki terlebih dahulu agar kebutuhan rumah tangga seperti mencuci dan memasak tetap terpenuhi. Menurutnya, dalam sebulan Salwa bisa membeli air tangki hingga dua kali, bahkan lebih jika kebutuhan mencuci meningkat.

"Kalau tidak hujan, tidak ada air, tidak bisa mencuci. Sebulan itu bisa dua kali beli, itu sudah lumayan, apalagi kalau mau cuci piring dan cuci baju," kata Salwa.

Salwa menyebutkan, kondisi tersebut cukup memengaruhi aktivitas sehari-hari karena kebutuhan air digunakan hampir di semua aspek, mulai dari mandi, memasak, hingga mencuci. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih setiap bulan, Salwa mengaku rata-rata harus mengeluarkan biaya sekitar Rp150.000, dan pada kondisi tertentu terpaksa membeli air minum kemasan galon sebagai tambahan.

Terkait bantuan air bersih dari pemerintah, Salwa mengaku belum mendapatkan informasi apa pun hingga saat ini. Salwa berharap ke depan ada perhatian lebih dari pemerintah, khususnya bagi warga yang menggunakan sumur bor, karena air sumur biasanya berubah menjadi berminyak saat musim kemarau seperti sekarang.

"Semoga ada bantuan dari pemerintah, entah diberikan setiap RT atau RW, seperti tangki diisi air bersih untuk warga sekitar. Itu lumayan membantu," kata Salwa.

Meski musim kemarau kerap dikaitkan dengan lonjakan kebutuhan air bersih, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa penyebaran penyedia jasa air tangki turut memengaruhi stabilitas permintaan dan harga di masing-masing wilayah. Namun di sisi lain, sejumlah warga seperti Salwa masih merasakan dampak kekeringan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam penggunaan air bersih, khususnya di musim kemarau, guna menjaga ketersediaan air sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....