Jejak Panjang Sandal Jepit Indonesia
- 31 Agt 2026 19:14 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong – Siapa sangka, alas kaki yang kita pakai sehari-hari menyimpan perjalanan sejarah panjang di Nusantara. Sebelum sandal jepit karet mendominasi rak sepatu masyarakat modern, bentuk dan fungsi alas kaki di Indonesia mengalami transformasi dinamis dari masa ke masa.
Dari Paduka Raja hingga Bakiak Kayu
Pada masa kerajaan Nusantara abad ke-9 hingga ke-14, sebagian besar masyarakat beraktivitas tanpa alas kaki. Penggunaan alas kaki terbatas pada kalangan bangsawan dan raja yang mengenakan paduka atau tirumpah—alas kayu atau kulit hewan yang diberi pasak penahan di bagian depan.
Perubahan mulai terasa saat jalur perdagangan dengan Tiongkok semakin aktif. Masyarakat Tionghoa memperkenalkan bakiak, alas kaki dari kayu tebal dengan tali penahan karet. Bakiak cepat disukai masyarakat lokal karena praktis, tahan air, dan terjangkau untuk aktivitas sehari-hari di area basah seperti dapur dan tempat cuci.
Simbol Kelas dan Fesyen Kelom Geulis
Pengaruh Eropa turut memberi warna pada era kolonial. Pengrajin di Tasikmalaya pada era 1930-an mengadaptasi konsep klompen (sepatu kayu khas Belanda) menjadi Kelom Geulis. Sandal kayu berukir indah ini tak hanya melindungi kaki, tetapi juga menjadi simbol status sosial dan tren fesyen wanita pada zamannya.
Era Modern dan Kepopuleran Sandal Jepit
Memasuki pertengahan abad ke-20, revolusi material sintetis dan karet mengubah lanskap alas kaki secara global. Kehadiran sandal jepit karet—seperti merek legendaris Swallow—menjadikan sandal sebagai barang massal yang murah, tahan lama, dan merakyat.
Kini, sandal jepit bukan sekadar perlengkapan rumah tangga, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas dan budaya keseharian masyarakat Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....