Bahasa Indonesia Masih Populer di Timor Leste, Ini Alasannya
- 11 Jun 2026 10:38 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong – Timor Leste pernah menjadi bagian Indonesia selama lebih dari 26 tahun.
Dilansir Good News From Indonesia, 17 Juli 1976 negara yang berbatasan dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) ini didapuk menjadi provinsi ke-27 Indonesia bernama Timor Timur. 30 Agustus 1999 terjadi referendum besar yang dilakukan oleh rakyat Timor Timur.
Hasil referendum kemerdekaan yang diselenggarakan PBB menyatakan mayoritas rakyat Timor Timur ingin wilayahnya merdeka dari Indonesia. 20 Mei 2002 Timor Timur resmi Merdeka dari Indonesia.
Hubungan Indonesia dan Timor Leste terjalin baik meski mendapat masa lalu kelam. Menukil dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI), Timor Leste ingin meningkatkan kerjasama strategis dengan Indonesia. Timor Leste dikelompokkan oleh Bank Dunia sebagai negara berpenghasilan rendah.
Indeks pembangunannya rendah, didukung data tingkat pengangguran mencapai 20 persen. Terbatas pengelolaan berbagai sektor, salah satunya swasta. Pemerintahnya mengandalkan sektor minyak dan gas yang menyumbang lebih dari 90 persen PDB dan 70 persen pendapatan pemerintah.
Terjadi ketimpangan antara masyarakat di perbatasan NTT dengan Timor Leste. Masyarakat Atambua, NTT memiliki kehidupan lebih baik dibandingkan masyarakat diperbatasan Timor Leste. Uniknya banyak orang Timor Leste berbelanja di NTT untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Tim penelitian Pusat Riset Bahasa, Sastra dan Komunikasi Badan Riset dan Inoasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa bahasa Indonesia masih umum digunakan oleh masyrakat Timor Leste di area perbatasan dengan Indonesia.
Alasannya adalah karena kesamaan latar belakang bahasa, budaya dan hubungan kekerabatan. Bahasa Indonesia masih mendominasi dibandingkan bahasa resmi Timor Leste.
Hasil penelitian BRIN mengungkap terdapat delapan bahasa diruang publik Timor Leste yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Tetun, bahasa Dawan, bahasa Melayu Kupang, bahasa Kemak, bahasa Arab dan bahasa Portugis.
Hasil observasi yang dilakukan di Kota Kefamenanu dan Atambua di NTT dekat dengan kawasan perbatasan Timur Leste, terungkap bahwa dua kota ini mempresentasikan keragaman sosial, etnis, agama, ekonomi dan bahasa di dua negara.
Observasi juga dilakukan di Pos Lintas Batas Napan, Wini dan Motaain serta di kantor imigrasi induk. Di kawasan perbatasan ini, pelayanan dua kantor imigrasi menggunakan bahasa Indonesia.
Menunjukkan bahasa nasional Timor Leste tidak memberikan pengaruh signifikan untuk dipakai di ruang publik Indonesia karena masyarakat Timor Leste sendiri justru fasih berbahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia dianggap sebagai franca lingua atau bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antar kelompok yang memiliki bahasa berbeda dalam hal ini negara Indonesia dan Timor Leste. Bahasa Indonesia dianggap mampu mengakomodir semua kepentingan antarmasyarakat dua negara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....