Dari NTT untuk Dunia, Mgr Gabriel Manek dan Impian Menjadi Santo Pertama Indonesia
- 03 Mei 2026 07:23 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong - Di antara tokoh Gereja Katolik Indonesia, nama Gabriel Manek makin populer berkat kesaksian hidupnya. Ia adalah pelayan umat dan pelopor yang membuka jalan bagi imam pribumi. Kisahnya kembali dikenang seiring harapan ia menjadi santo pertama dari Indonesia.
Disadur dari GNFI, Mgr. Gabriel Manek berasal dari NTT, pusat perkembangan iman Katholik di Indonesia timur. Dalam sejarah Gereja saat itu, kehadiran imam pribumi masih terbatas. Tahbisannya sebagai imam pada 28 Januari 1941 menjadi peristiwa penting. Ia sebagai pastor pribumi pertama wilayah tersebut menandai sejarah kemandirian Gereja lokal.
Kehadirannya memberi harapan bahwa masyarakat setempat dapat berperan utama dalam Gereja. Tahbisan ini menjadi simbol perubahan besar dalam dinamika Gereja di Indonesia.
Pelayanannya berlanjut hingga ia diangkat sebagai Uskup Larantuka pada 25 April 1951. Ia menunjukkan kepemimpinan sederhana namun penuh dedikasi. Ia dikenal dekat dengan umat, mengunjungi berbagai daerah dan memperkuat kehidupan iman masyarakat. Ia mendirikan kongregasi Suster Putri Reinha Rosari (PRR). Didirikan sebagai pelayanan dalam bidang pendidikan, sosial dan pastoral. Kehadiran para suster PRR menjadi perpanjangan tangan pelayanan Gereja di berbagai daerah.
Setelah 10 tahun menjabat sebagai uskup, kesehatannya mulai menurun dan mengundurkan diri demi pemulihan. Kemudian pergi ke Amerika Serikat untuk menjalani pengobatan. Kesehatannya membaik, ia tetap melayani sebagai imam disana dengan semangat pengabdian yang tak padam hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia dalam kesederhanaan sebagai pelayan Tuhan yang setia hingga akhir.
Aspek yang memperkuat harapan bahwa Mgr. Gabriel Manek dapat diangkat menjadi santo adalah peristiwa yang terjadi pada tahun 2007. Para suster dari Putri Reinha Rosari berinisiatif untuk memulangkan jenazahnya ke Indonesia. Jenazah beliau ditemukan dalam kondisi utuh meski telah wafat selama 17 tahun.
Peristiwa ini dianggap sebagai tanda kekudusan dalam tradisi Gereja Katolik. Menjadi perhatian dalam proses pengumpulan bukti menuju kemungkinan kononisasi. Dalam Gereja Katolik, mukjizat adalah unsur penting dalam proses penetapan santo. Kejadian ini memperkuat keyakinan umat akan keistimewaan kehidupan Mgr. Gabriel Manek.
Pengabdian, kepemimpinan yang rendah hati dan tanda-tanda setelah wafatnya Mgr. Gabriel Manek menjadi kandidat kuat untuk diangkat sebagai santo. Jika terwujud ia akan menjadi santo pertama dari Indonesia. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa kekudusan lahir dari kesederhanaan, kerja keras dan kesetiaan dalam menjalani panggilan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....