Literasi Digital Jadi Kunci Tangkal Deepfake, Masyarakat Diminta Lebih Bijak
- 22 Feb 2026 21:23 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Maraknya teknologi deepfake di media sosial menjadi tantangan baru bagi masyarakat digital. Selain berpotensi menjadi kejahatan, fenomena ini juga menguji tingkat literasi digital masyarakat, terutama dalam membedakan konten asli dan palsu.
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pendidikan Ganesha, Gede Anggha Indrawan, mengatakan pentingnya edukasi dan kehati-hatian dalam menggunakan media sosial.
“Yang paling penting itu cek fakta sebelum membagikan. Jangan hanya lihat judul langsung disebar, apalagi kalau kontennya provokatif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, deepfake biasanya masih memiliki ciri-ciri tertentu seperti gerakan wajah yang tidak natural, sinkronisasi bibir yang tidak sesuai suara, hingga detail visual yang tampak janggal.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam membagikan data pribadi, termasuk foto wajah di internet. Hal ini karena data visual dapat disalahgunakan untuk membuat konten deepfake.
“Sekarang ada tren mengurangi unggahan wajah, bahkan ada yang tidak memasang foto pribadi di media sosial sebagai bentuk perlindungan diri,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam meningkatkan literasi digital. Pasalnya, kelompok usia dewasa cenderung lebih rentan mempercayai dan menyebarkan informasi tanpa verifikasi.
Edukasi melalui media sosial dinilai menjadi cara paling efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Konten edukatif yang menjelaskan ciri-ciri deepfake dan cara mengenalinya diharapkan dapat menjangkau lebih luas pengguna internet.
Ke depan, ia menilai perlu adanya regulasi khusus terkait kecerdasan buatan agar dapat memberikan perlindungan hukum yang lebih kuat terhadap penyalahgunaan teknologi.
“Teknologi pasti berkembang, tapi literasi dan kesadaran masyarakat harus lebih dulu siap,” ucapnya.