Kisah Inspiratif UMKM Buleleng: Dapur Bu Willy Tembus Pasar hingga Program MBG

  • 24 Feb 2026 21:45 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja — Semangat dan ketekunan menjadi kunci utama bagi Luh Putu Wilandari dalam membangun usaha camilan rumahan Dapur Bu Willy. Dirintis sejak masa pandemi tahun 2020, usaha stik keju yang awalnya dibuat dari dapur rumah kini berhasil menembus pasar yang lebih luas, bahkan masuk dalam program dapur MBG.

Luh Putu Wilandari menceritakan awal mula usaha yang berangkat dari kondisi pandemi. Saat itu, aktivitas pariwisata menurun dan dirinya bersama suami harus berdiam di rumah. Berbekal pengalaman di bidang kuliner, ia mencoba membuat camilan stik keju dengan peralatan sederhana.

“Awalnya iseng saja, coba resep dari internet, produksi sedikit dulu. Ternyata responnya bagus, banyak yang suka,” ujarnya.

Produk tersebut kemudian dipasarkan secara sederhana melalui teman ke teman, hingga akhirnya mulai digunakan sebagai isian snack box untuk kegiatan kampus dan upacara keagamaan.

Perjalanan usaha tidak selalu mulus. Ia mengaku sempat ragu untuk menawarkan produknya ke toko-toko. Namun berkat keberanian memberikan sampel dan menjaga kualitas rasa, produknya perlahan diterima pasar.

“Di awal kita jangan takut rugi, kasih tester dulu supaya orang percaya dengan kualitas produk kita,” katanya.

Keuletan tersebut berbuah hasil. Selain dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh di Bali, produk stik keju Dapur Bu Willy juga telah merambah pasar luar daerah bahkan luar negeri melalui jaringan reseller.

Pencapaian terbaru yang membanggakan adalah ketika produk tersebut berhasil masuk ke dapur MBG melalui rekomendasi dinas terkait. Setelah melalui proses seleksi, termasuk kelengkapan izin seperti halal, PIRT, dan hak kekayaan intelektual, stik keju Dapur Bu Willy dinilai layak menjadi bagian dari menu dapur MBG.

“Senang sekali karena tidak semua UMKM bisa masuk. Ini jadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas,” katanya.

Saat ini, produk tersebut dipasok secara rutin melalui sistem pre-order ke beberapa dapur SPPG, seperti wilayah Petemon dan Temukus.

Meski telah berkembang, Luh Putu Wilandari mengaku masih terus berbenah, terutama dalam hal branding dan pemasaran digital. Ia juga berencana menambah varian rasa seperti pedas dan BBQ untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

Ia berharap kisahnya bisa menginspirasi masyarakat, khususnya pelaku UMKM, agar tidak takut memulai usaha dari kecil.

“Yang penting konsisten, jaga kualitas, dan jangan mudah menyerah,” katanya.


Rekomendasi Berita