Dari Kos Kecil Melesat, Oase Mimpi Perempuan Indonesia

  • 30 Jun 2025 19:47 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Di sebuah desa di pinggiran Gianyar, aroma serai dan cendana menyeruak dari balik bangunan sederhana yang sekaligus menjadi pabrik dan showroom produk aromaterapi. Di sinilah Komang Yati, seorang perempuan Bali, menenun kisah hidupnya dari asisten rumah tangga menjadi pengusaha yang kini menembus pasar mancanegara.

“Ya, bekerja dari rumah saja, dimulai dari dengan batok kelapa di daerah saya banyak sekali, saya berpikir harus dijakian apa ini,” kata Yati.

Salah satu kegiatan di rumah produksi Kamang Yati, yaitu mengumpulkan kelapa dan mengolahnya.

Perjalanannya tak sekadar cerita sukses, tapi refleksi atas ketekunan, keberanian mengambil risiko, dan semangat memberdayakan sesama.

Komang Yati bukan terlahir dari keluarga berada. Ia adalah anak desa yang sejak remaja harus mencari nafkah sendiri. Nasib membawanya menjadi asisten rumah tangga bagi keluarga ekspatriat asal Amerika dan Prancis yang tinggal di Ubud. Dari pekerjaan ini, ia menyerap banyak hal: etos kerja, disiplin, dan ketertarikan akan gaya hidup natural yang dibawa majikannya.

Namun, nasib kembali berbelok saat ia mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup serius. Cedera di bagian kakinya membuatnya tidak lagi mampu menjalankan aktivitas sebagai asisten rumah tangga yang menuntut tenaga dan mobilitas tinggi. Kondisi ini membuatnya terpuruk, namun juga memaksanya untuk memikirkan ulang jalan hidupnya.

"Saya tidak hanya bekerja membersihkan rumah. Saya belajar diam-diam bagaimana mereka menggunakan minyak esensial, lilin aromaterapi, dan hidup seimbang dengan alam," tuturnya mengenang.

Tahun 1998 menjadi titik balik. Berbekal pengalaman bekerja dan semangat untuk mandiri, Komang Yati memutuskan untuk berhenti menjadi asisten rumah tangga. Ia menyewa kamar kos 3x3 meter, tempat pertama usahanya dirintis.

“Awal mulanya saya memulai dari kosan saat itu, tidak besar kalua tidak salah ukurannya hanya 3x3,” ujarnya.

Di ruangan sempit itu, ia mulai mengolah kelapa, bahan lokal yang murah namun kaya manfaat, menjadi minyak aromaterapi. Batoknya ia sulap menjadi tempat lilin eksotis.

Ditambahkannya saat itu, Pada siang hari, Yati masih menerima pekerjaan serabutan. Tapi malam adalah waktunya berkreasi. Dengan peralatan sederhana, ia memeras santan, menyuling minyak, mencampur aroma, lalu mengemasnya. Label produk ia tulis tangan, satu per satu.

“ dulu karena baru memulai, yang membeli juga hanya teman dan tetangga, hasilnya belum seberapa saya masih menerima pekerjaan serabutan, jika ada pekerjaan yang datang,” Ucapnya.

Brand "Bali Nature Shop" lahir dari intuisi dan harapan. Ia tidak tahu cara membangun merek secara profesional, tapi ia tahu produknya punya nilai. Nilai yang berasal dari alam dan tangan yang bekerja penuh cinta. Awalnya produk dijual ke teman, lalu tetangga, kemudian pelanggan mulai berdatangan. Ia titipkan produknya ke warung oleh-oleh di Ubud. Tanpa kendaraan, ia harus naik ojek atau berjalan kaki membawa kantong penuh botol minyak dan tempat lilin.

"Kadang saya hanya dapat ongkos pas-pasan. Tapi saya senang ketika orang bilang 'wanginya enak sekali!' Itu motivasi saya," katanya sambil tersenyum.

Saat permintaan meningkat, kamar kos tak lagi memadai. Ia pun menjual sepeda motor satu-satunya. Uang dari penjualan itu ia gunakan untuk menyewa toko kecil di Tegalalang, kawasan wisata pinggiran Ubud yang mulai ramai saat itu. Toko itu kecil dan sederhana, namun penuh semangat. Ia susun produk di rak kayu, mengatur display dengan kain tradisional, dan menerima pelanggan dengan senyum ramah. Setiap pembeli ia anggap sebagai duta yang akan membawa cerita tentang produk Bali ke mana pun mereka pergi.

Tahun 2000 menjadi titik penting lain dalam perjalanan usahanya. Komang Yati berkenalan dengan layanan pengiriman JNE yang kala itu sudah mulai menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Sebelumnya ia hanya mengandalkan teman atau sopir lokal untuk antar produk. Tapi dengan kemitraan yang ia bangun bersama JNE, alur pengiriman menjadi lebih cepat, efisien, dan terpercaya. Produk-produknya kini bisa menjangkau Jakarta, Surabaya, Makassar, bahkan luar negeri dengan lebih mudah.

Komang Yati berbaju putih bersama pembeli dari mancanegara.

"Kolaborasi dengan JNE membuat usaha saya semakin melesat. Saya bisa mengirimkan produk ke pelanggan secara cepat, aman, dan profesional," tuturnya.

Komang belajar mengemas lebih rapi, menyesuaikan standar pengiriman, dan mulai menerbitkan katalog produk, membuat daftar harga, serta mencetak label secara profesional. Kecepatan pengiriman dari JNE membuat pelanggan merasa puas, dan kepercayaan itu menjelma menjadi loyalitas.

Seiring meningkatnya kepercayaan pelanggan, permintaan pun melonjak. Namun pertumbuhan pesat juga membawa tantangan. Ia kewalahan memenuhi pesanan. Di satu sisi senang, tapi di sisi lain bingung. Di sinilah ia memutuskan mencari pinjaman modal.

Komang Yati mendapat pinjaman awal sebesar Rp4 juta dari program Kredit Usaha Mikro. Uang itu ia gunakan membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar dan memperbaiki peralatan. Tak hanya modal, ia juga mendapat pelatihan bisnis: manajemen produksi, pencatatan keuangan, hingga pemasaran.

"Saya baru tahu pentingnya pencatatan harian. Dulu semua saya hafal di kepala. Tapi kalau mau berkembang, harus punya data," jelasnya.

Ia mulai merekrut tetangga untuk membantu produksi. Kebanyakan dari mereka adalah ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak bekerja.

Kini, di bawah bendera CV Bali Ayu Shop, ia mempekerjakan lebih dari 30 perempuan, sebagian besar adalah ibu rumah tangga dari desa-desa sekitar. Mereka dilatih membuat minyak, memoles batok kelapa, hingga mengemas produk.

"Saya ingin perempuan di desa punya penghasilan tanpa harus jauh dari keluarga. Mereka bisa bekerja paruh waktu, tetap mengurus rumah, tapi juga berdaya," ujar Komang Yati dengan nada bangga.

Produk Bali Ayu Shop kini mencapai lebih dari 100 varian, seperti minyak aromaterapi, lilin, sabun herbal, dan paket spa. Pasarnya tak hanya Bali dan kota besar di Indonesia, tapi juga ekspor ringan ke Jepang, Australia, dan Belanda. Dengan kerja keras, semangat berinovasi, dan dukungan distribusi yang kuat dari JNE, omzet bulanan CV Bali Ayu Shop kini mencapai Rp500 juta. Namun bagi Yati, angka bukan segalanya. Ia lebih senang melihat perubahan di sekitarnya.

"Omzet penting, tapi lebih penting lagi bagaimana usaha ini bisa mengangkat perempuan di desa, memberi mereka martabat dan kesempatan," ujarnya.

Selain bisnis, ia juga aktif memberi pelatihan wirausaha di desa. Ia percaya, kesuksesan tak boleh dinikmati sendiri. Ia ingin menularkan semangat kepada generasi muda, terutama perempuan. Ketika ditanya apa rahasianya, Komang Yati menyebut empat hal: kecepatan, kekuatan, semangat, dan komitmen.

"Kecepatan dalam melihat peluang. Kekuatan untuk menghadapi tantangan. Semangat untuk terus belajar. Dan komitmen untuk menjaga kualitas serta memberdayakan orang lain," katanya.

Ia menyadari dunia terus berubah. Karena itu, ia mulai melirik digitalisasi. Produk Bali Ayu Shop kini hadir di marketplace, media sosial, dan website resmi. Kisah Komang Yati adalah contoh nyata bahwa ketekunan dan keberanian bisa mengubah nasib.

Dari kamar kos sempit, ia membangun kerajaan kecil berbasis lokal yang kini merambah pasar dunia. Namun lebih dari itu, ia telah membuka jalan bagi perempuan lain untuk berdiri dan berjalan bersama.

Salah satu karyawan Komang Yati yang mendapatkan kesempatan untuk bekerja di rumah produksi miliknya.

Di dunia yang kerap tak ramah bagi pengusaha kecil, kisah Komang Yati adalah oase harapan. Dengan hati yang besar, tangan yang terampil, dan semangat tak pernah padam, batas bisa ditembus. Bahkan oleh seseorang yang memulainya dengan batok kelapa dan mimpi besar.

Rekomendasi Berita