Heboh! Presiden Federasi Prancis Bongkar Kekhawatiran Besar soal Proyek FIFA

  • 30 Jul 2026 10:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Federasi Sepak Bola Prancis, Philippe Diallo melontarkan, kritik tajam kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino. Kritik tajam itu, terkait rencana Infantino yang ingin menjual sebagian saham komersial Piala Dunia kepada swasta
  • Menurut Diallo, wacana tersebut memunculkan banyak tanda tanya mengenai transparansi, tata kelola, dan masa depan kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia.
  • Ini adalah proyek yang mengkhawatirkan dan menimbulkan banyak pertanyaan, kami mengetahuinya melalui media, tanpa mendapatkan informasi apa pun.

RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Federasi Sepak Bola Prancis, Philippe Diallo melontarkan, kritik tajam kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino. Kritik tajam itu, terkait rencana Infantino yang ingin menjual sebagian saham komersial Piala Dunia kepada dana investasi swasta.

Menurut Diallo, wacana tersebut memunculkan banyak tanda tanya mengenai transparansi, tata kelola, dan masa depan kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia. Laporan harian olahraga Prancis, L'Equipe menyebut, Federasi Sepak Bola Prancis mengetahui rencana tersebut melalui pemberitaan media.

Informasi itu, pertama kali diungkap oleh The Times, sementara FIFA disebut tidak pernah memberikan penjelasan resmi kepada federasi anggotanya. Diallo menilai, minimnya komunikasi dari FIFA menjadi persoalan serius.

Ia menegaskan, federasi nasional tidak memperoleh gambaran mengenai tujuan, mekanisme. Maupun juga, struktur pendanaan dari proyek tersebut.

"Ini adalah proyek yang mengkhawatirkan dan menimbulkan banyak pertanyaan, kami mengetahuinya melalui media, tanpa mendapatkan informasi apa pun. Kami tidak tahu filosofinya, tidak tahu urgensinya, tidak tahu struktur finansialnya, tidak pula sumber pendanaannya," kata Diallo dalam keterangannya terkait FIFA seperti dilansir L'Equipe, Kamis, 30 Juli 2026.

Ia mengungkapkan, Piala Dunia merupakan aset paling berharga dalam ekosistem sepak bola global. Kebijakan yang berkaitan dengan kompetisi tersebut, seharusnya dibahas secara terbuka dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

"Proyek ini mengkhawatirkan karena minim rincian, dan menyentuh salah satu aset mendasar sepak bola. Yaitu Piala Dunia, kompetisi olahraga terbesar di dunia," ucap Diallo.

Diallo juga mengungkapkan, kekhawatirannya terhadap tata kelola FIFA bukanlah hal baru. Sebelumnya, ia pernah mempertanyakan mekanisme pembagian pendapatan Piala Dunia kepada federasi peserta yang dinilai belum sepenuhnya adil.

Selain itu, ia menyinggung, sejumlah keputusan kontroversial yang dinilai memperkuat alasan perlunya evaluasi terhadap sistem kepemimpinan FIFA. Di antaranya adalah pembatalan kartu merah Folarin Balogun hingga wacana penambahan peserta Piala Dunia menjadi 64 tim setelah format 48 tim.

"Semua itu menuntut peninjauan ulang atas tata kelola FIFA, belum mencerminkan besarnya nilai yang diwakili sepak bola. Contoh, seperti berbagai kebijakan finansial yang dianggap kurang transparan," ujar Diallo.

Menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027, Diallo menilai, proses demokrasi di tubuh organisasi sepak bola dunia harus diperkuat. Ia mengakui sejumlah konfederasi, terutama Afrika dan Asia, telah menyatakan dukungan untuk kembali memilih Gianni Infantino.

Meski demikian, Diallo menegaskan bahwa dukungan tersebut tidak boleh mengabaikan tuntutan akan transparansi dan akuntabilitas. Ia menilai masih banyak pertanyaan yang harus dijawab sebelum pemilihan kembali dilakukan.

"Tidak boleh ada pemilihan baru. Tanpa lebih banyak kejelasan, demokrasi, dan transparansi," kata Diallo.

Diallo juga menolak,, anggapan bahwa kritik terhadap FIFA hanya datang dari Eropa. Menurutnya, Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) juga memiliki pertanyaan terhadap proyek baru tersebut.

Ia menambahkan, Eropa memiliki legitimasi kuat untuk menyampaikan pandangannya karena konsistensi prestasi di Piala Dunia. Pada edisi terakhir, enam dari delapan tim perempat final berasal dari Eropa, termasuk tiga dari empat semifinalis, yakni Spanyol, Prancis, dan Inggris.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....