Mantan KSP Moeldoko Dorong WCOPS Jadi Jembatan Diplomasi Petani Sawit Dunia

  • 28 Agt 2026 20:12 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Nusantara – Organisasi petani sawit dari tujuh negara resmi membentuk World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS) dalam International Oil Palm Smallholders Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Kamis, 27 Agustus 2026.

WCOPS dibentuk sebagai wadah kerja sama petani sawit dunia untuk memperkuat posisi tawar dan memperjuangkan kepentingan pekebun kecil di tingkat internasional.

Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Jenderal TNI Purnawirawan Moeldoko, mengatakan WCOPS menyatukan petani sawit dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Nigeria, Ghana, Honduras, dan Pantai Gading.

Menurutnya, petani dari berbagai negara menghadapi tantangan yang hampir sama, mulai dari regulasi global, fluktuasi harga, sertifikasi, hingga tuntutan standar keberlanjutan.

“Petani sawit bukanlah objek. Petani adalah bagian utama dan tulang punggung rantai pasok minyak sawit dunia,” ujar Moeldoko dalam sambutan tertulis yang dibacakan anggota Dewan Pembina Apaksindo Mayjen TNI (Purn) Ero Gusnara.

Moledoko yang pernah menjabat Kepala Staf Presiden (KSP) di masa Presiden ketujuh RI, Joko Widodo mengatakan, WCOPS dapat menjadi ruang bagi petani untuk bertukar pengalaman dan praktik terbaik.

Koalisi tersebut juga diharapkan memperkuat posisi petani dalam menghadapi berbagai tekanan industri sawit global. Ia menilai solidaritas menjadi kekuatan utama petani dalam memperjuangkan kepentingan bersama.

Sementara itu, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian, Iim Mucharam, menyambut pembentukan WCOPS sebagai ruang untuk memperkuat kerja sama petani sawit dunia.

Menurut Iim, pemerintah mendorong pekebun rakyat menjadi bagian utama dalam transformasi industri sawit. Petani tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga mitra strategis dalam rantai nilai industri sawit.

“Kita tidak boleh membangun industri sawit yang kuat di tingkat hilir, tetapi meninggalkan pekebun di tingkat hulu. Sebaliknya, kita harus membangun ekosistem yang memastikan pekebun semakin produktif, sejahtera, profesional, dan terintegrasi dengan rantai nilai industri kelapa sawit,” katanya.

Iim mengatakan pemerintah terus meningkatkan produktivitas pekebun melalui penggunaan benih unggul, penerapan teknologi, tata kelola budidaya yang baik, dan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Pemerintah juga mendorong kemitraan antara pekebun dan perusahaan agar mencakup penyediaan benih, pendampingan teknis, pembiayaan, kepastian pasar, peningkatan kualitas TBS, ketertelusuran, sertifikasi, hingga hilirisasi.

“Karena itu, pemerintah mendorong agar pekebun tidak hanya dipandang sebagai penerima program, tetapi juga sebagai mitra strategis dan pelaku utama pembangunan industri sawit nasional,” ujarnya.

Menurut Iim, forum petani sawit internasional dapat menjadi platform diplomasi pekebun untuk membangun agenda bersama dalam peningkatan produktivitas, teknologi, pembiayaan, ketertelusuran, sertifikasi, dan perdagangan yang adil.

Melalui WCOPS, petani sawit dari berbagai negara diharapkan mampu memperkuat solidaritas, meningkatkan posisi tawar, serta memastikan kebijakan internasional turut memberikan manfaat bagi petani, keluarga, dan generasi penerus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....