Apkasindo Galang Dukungan Petani Sawit Dunia Hadapi Tekanan Pasar Global

  • 28 Agt 2026 16:22 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Nusantara – Indonesia secara resmi menggalang solidaritas petani sawit dunia guna menghadapi berbagai tantangan berat di pasar global melalui perhelatan International Oil Palm Smallholder (IOPS) Forum 2026. Acara berskala internasional ini diselenggarakan oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada tanggal 27–29 Agustus 2026.

Forum ini mempertemukan petani sawit dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Nigeria, Ghana, Honduras, dan Pantai Gading. Peserta membahas harga, regulasi, produktivitas, teknologi, sertifikasi, dan keberlanjutan.

Forum juga melahirkan Joint Statement Petani Sawit Internasional sebagai bagian dari pembentukan World Coalition of Oil Palm Smallholders atau WCOPS. Koalisi ini menjadi wadah petani sawit dunia untuk memperkuat kerja sama dan posisi tawar dalam menghadapi pasar global.

Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Medali Emas Manurung mengatakan petani perlu bersatu dan membangun hubungan yang setara dengan korporasi.

“Kita tidak ingin memberontak dan tidak ingin melawan. Namun, semangat petani sawit Indonesia adalah kesetaraan dengan korporasi,” kata Gulat.

Gulat juga mendorong pembentukan Bursa Sawit Indonesia agar harga CPO Indonesia memiliki referensi yang lebih kuat di pasar global. Ia juga mengusulkan Badan Otoritas Sawit Indonesia untuk memperkuat tata kelola industri sawit nasional.

Sementara Dewan Pembina DPP Apkasindo Mayjen TNI Purnawirawan Ero Gusnara mengatakan petani sawit dari berbagai negara menghadapi tantangan yang hampir sama, terutama fluktuasi harga dan tekanan regulasi global.

“Petani sawit bukanlah objek. Petani adalah bagian utama dan tulang punggung rantai pasok minyak sawit dunia,” katanya.

Ero berharap WCOPS menjadi wadah untuk memperkuat posisi tawar petani dan memastikan kebijakan sawit global melibatkan kepentingan pekebun kecil.

Pada kesempatan yang sama, Director of Sustainability and Smallholder CPOPC, Antonius Yudi Triantoro mengatakan masa depan industri sawit harus berjalan seiring dengan kesejahteraan petani.

“Ketika berbicara mengenai masa depan kelapa sawit, kita juga harus berbicara mengenai masa depan petani,” ucapnya.

Antonius meminta komunitas internasional tidak hanya menuntut petani memenuhi standar, tetapi juga membantu meningkatkan kapasitas petani agar mampu memenuhi ketentuan global.

Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Dr. Iim Mucharam mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas pekebun melalui penggunaan benih unggul, teknologi, tata kelola budidaya, dan Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR.

“Kita tidak boleh membangun industri sawit yang kuat di tingkat hilir, tetapi meninggalkan pekebun di tingkat hulu,” katanya.

Mucharam menegaskan PSR bukan sekadar mengganti tanaman tua, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun generasi baru perkebunan sawit rakyat.

Melalui WCOPS, petani sawit dunia diharapkan memiliki kekuatan bersama untuk memperjuangkan harga yang adil, meningkatkan produktivitas, memperkuat keberlanjutan, dan memastikan kebijakan global turut melindungi kepentingan petani kecil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....