Apkasindo Dorong Harga Sawit Indonesia Lebih Kompetitif di Dunia
- 28 Agt 2026 18:24 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Nusantara – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mendorong pembenahan mekanisme harga sawit Indonesia agar lebih kompetitif di pasar global. Langkah tersebut disampaikan setelah Apkasindo meluncurkan website harga sawit dunia sebagai sarana informasi dan pembanding harga bagi petani.
Ketua Umum DPP APKASINDO Gulat Medali Emas Manurung mengatakan, petani membutuhkan informasi harga yang transparan untuk mengetahui posisi harga sawit Indonesia dibandingkan negara produsen lainnya.
Menurut Gulat, perbedaan harga CPO Indonesia dengan Malaysia dan Rotterdam perlu dilihat secara menyeluruh. Pemerintah dan pelaku industri perlu menghitung berbagai komponen yang memengaruhi harga, termasuk pungutan ekspor, biaya keluar, dan kebijakan Domestic Market Obligation atau DMO minyak goreng.
“Jangan hanya mengatakan harga CPO Indonesia lebih rendah. Kita harus melihat secara terbuka mengapa harga CPO Indonesia bisa rendah dan komponen apa saja yang memengaruhinya,” kata Gulat dalam perhelatan International Oil Palm Smallholder (IOPS) Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Jumat 28 Agustus 2026.
Ia menilai website harga sawit dunia dapat membantu petani memperoleh gambaran mengenai perkembangan harga sawit di berbagai negara. Informasi tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan harga yang lebih berpihak kepada petani.
“Hari ini kita dengan bangga kita mengumumkan bahwa asosiasi sawit rakyat Indonesia secara resmi meluncurkan website harga sawit dunia dari IKN,” ucap Gulat dalam acara yang diikuti 7 negara produsen sawit dunia.
Gulat menyebut harga CPO Indonesia berada di kisaran Rp15.000 per kilogram, sedangkan Malaysia sekitar Rp20.000 dan Rotterdam sekitar Rp29.000. Menurut dia, perbedaan tersebut tidak bisa dilihat hanya dari angka akhir, tetapi harus dikaji berdasarkan berbagai beban yang memengaruhi harga CPO Indonesia.
“Kita jangan hanya mengatakan harga CPO Indonesia Rp15.000, Malaysia Rp20.000, Rotterdam Rp29.000. Kamu harus juga buka, kenapa rendah harga CPO Indonesia,” ucapnya.
Gulat mengatakan APKASINDO bersama organisasi petani sawit dari sejumlah negara juga mendorong pembentukan Bursa Sawit Indonesia.
Menurutnya, bursa tersebut dapat memberikan referensi harga yang lebih kuat dan membuat harga CPO Indonesia semakin terhubung dengan mekanisme pasar global.
“Bursakan CPO Indonesia, supaya harganya harga global, bukan harga domestik,” ujarnya.
Gulat berharap penguatan sistem informasi harga dan pembentukan bursa sawit dapat meningkatkan transparansi perdagangan sekaligus memperkuat posisi tawar petani.
Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda APKASINDO bersama petani sawit dunia melalui World Coalition of Oil Palm Smallholders atau WCOPS untuk memperjuangkan perdagangan yang lebih adil dan meningkatkan kesejahteraan pekebun kecil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....