Berjasa Bentuk PDA, Ismail Thomas: Saya Ingin Satukan Seluruh Etnis di Kutai Barat
- 24 Jul 2026 06:52 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Mantan Bupati Kutai Barat periode 2006–2016, Ismail Thomas, mengungkapkan pembentukan Presidium Dewan Adat (PDA) Kabupaten Kutai Barat 25 tahun silam, berangkat dari keinginan menyatukan seluruh etnis dalam satu wadah. Gagasan itu lahir saat dirinya menjabat Wakil Bupati mendampingi Bupati pertama Kutai Barat, almarhum Rama Alexander Asia.
Thomas mengatakan, sejak awal pembentukan daerah otonomi baru, Kutai Barat dihuni masyarakat dari berbagai suku dan etnis. Kondisi itu mendorong pemerintah bersama para tokoh adat membentuk sebuah lembaga yang mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat adat tanpa membedakan latar belakang.
"Saya mengusulkan kepada Bupati agar dibentuk Presidium Dewan Adat supaya seluruh etnis di Kutai Barat memiliki rumah bersama. Akhirnya enam etnis utama, yaitu Tonyoi, Benuaq, Bahau, Oheng, Kenyah, dan Melayu, dapat terwakili dalam satu lembaga," ujarnya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 PDA Kabupaten Kutai Barat di Kompleks Lamin Taman Budaya Sendawar, Barong Tongkok, Selasa 21 Juli 2026.
Menurut Thomas, etnis Melayu dalam struktur PDA juga mewakili masyarakat Kutai serta berbagai suku pendatang yang telah lama hidup berdampingan di Kutai Barat. Dengan demikian, setiap etnis memiliki ruang untuk mengembangkan adat dan budayanya, sekaligus tetap menghormati budaya lokal sebagai identitas daerah.
Sebagai wujud semangat persatuan itu, pemerintah saat itu membangun enam Lamin Etnis di kawasan Taman Budaya Sendawar. Keenam lamin tersebut menjadi simbol keberagaman yang hidup berdampingan secara harmonis di Kutai Barat.
"Enam lamin ini menjadi bukti bahwa seluruh etnis memiliki tempat yang sama. Toleransi harus terus dipertahankan karena dari kebersamaan itulah kekuatan masyarakat Kutai Barat dibangun," katanya.
Mantan anggota DPR RI ini menegaskan, sejak awal Presidium Dewan Adat tidak dibentuk hanya untuk mengurus persoalan adat, tetapi juga menjadi perekat persatuan, pelestari budaya, dan penjaga toleransi di tengah masyarakat multietnis.
Ia berharap semangat para pendiri terus diwariskan kepada generasi muda agar PDA tetap menjadi wadah pemersatu seluruh etnis sekaligus mitra pemerintah dalam menjaga adat, budaya, dan keharmonisan masyarakat.
"Kalau persatuan ini terus kita jaga, saya yakin Kutai Barat akan tetap menjadi daerah yang aman, rukun, dan beradat. Itulah cita-cita yang ingin kami wariskan melalui Presidium Dewan Adat," ucapnya.
Thomas juga mengusulkan PDA untuk menghidupkan lamin-lamin adat di TBS dengan berbagai kegiatan. Mulai dari menganyam rotan, membuat mandau atau parang tradisional maupun kegiatan seni budaya.
“Kalau bukan kita yang melestarikan seni budaya daerah, siapa lagi,” katanya.
Sementara itu Ketua Presidium Dewan Adat Kutai Barat, Yurang, mengajak seluruh masyarakat melanjutkan cita-cita para pendiri dengan menjaga persatuan dan melestarikan adat di tengah keberagaman.
"Warisan para pendahulu adalah semangat yang harus terus kita jaga. Kami ingin Presidium Dewan Adat tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh etnis serta terus berkontribusi menjaga persatuan, melestarikan budaya, dan mendukung pembangunan Kutai Barat," ujar Yurang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....