Menag RI dan UAS Dijadwalkan Hadiri Puncak Harlah Ponpes Assalam Kutai Barat
- 17 Jun 2026 07:19 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dan Ustadz Abdul Somad (UAS) dijadwalkan hadir bersama dalam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning, Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, pada 4 Juli 2026.
Kehadiran dua tokoh nasional tersebut akan menjadi bagian dari tasyakuran khitan massal dan nikah massal yang digelar Ponpes Assalam, sekaligus rangkaian syukuran di Masjid Islamic Center Melak.
Untuk mematangkan agenda besar tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat bersama TNI-Polri, organisasi kemasyarakatan, dan panitia menggelar rapat koordinasi di Masjid Islamic Center Melak, Selasa 16 Juni 2026. Lebih dari 40 perwakilan lintas sektor hadir guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Menag dan UAS Hadir dalam Satu Momentum
Wakil Pimpinan Ponpes Assalam Arya Kemuning, KH Anas Yudiarso, menjelaskan bahwa kehadiran Menteri Agama dan UAS merupakan hasil koordinasi panjang antara Masjid Islamic Center Melak, Ponpes Assalam, serta tim manajemen kedua tokoh nasional tersebut.
Menurut Anas, Ponpes Assalam sejak awal mengundang Menteri Agama untuk menghadiri tasyakuran nikah massal. Sementara itu, pengurus Islamic Center telah berupaya menghadirkan UAS ke Kutai Barat sejak tiga tahun lalu.
"Alhamdulillah, saat pimpinan kami bersilaturahmi ke kediaman UAS di Riau pada Ramadan lalu, beliau langsung menyatakan kesediaannya hadir setelah mendengar program sosial yang kami jalankan. Setelah itu, jadwal beliau disinkronkan dengan agenda Islamic Center sehingga dapat hadir di dua lokasi sekaligus," ujarnya usai rapat koordinasi.
Anas mengungkapkan, semula Menteri Agama dijadwalkan hadir pada 6 Juli. Namun karena memiliki agenda lain di Jakarta, jadwal kunjungan dimajukan menjadi 4 Juli sehingga dapat bersamaan dengan kedatangan UAS.
"Rencananya Pak Menteri akan menghadiri tasyakuran nikah massal, sedangkan UAS akan mengisi tausiah pada tasyakuran khitan massal. Saat ini seluruh persiapan terus dimatangkan bersama pemerintah daerah dan aparat keamanan," katanya.
Khitan dan Nikah Massal Jadi Wujud Pelayanan Sosial
Selain menjadi perayaan hari lahir pondok pesantren, Harlah ke-34 Ponpes Assalam juga diisi berbagai kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Panitia menargetkan 1.000 peserta khitan massal dan 300 pasangan dalam program nikah massal. Hingga pertengahan Juni, jumlah peserta khitan telah mencapai sekitar 800 orang.
Program tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama.
"Khitanan ini terbuka untuk umum, baik muslim maupun nonmuslim. Bahkan ada peserta mualaf berusia 48 hingga 50 tahun yang ikut mendaftar. Pelaksanaannya dijadwalkan pada 30 Juni sampai 1 Juli," kata Anas.
Sementara itu, program nikah massal dilaksanakan bekerja sama dengan Pengadilan Agama Kutai Barat melalui sidang isbat nikah guna membantu warga memperoleh legalitas pernikahan.
Sebagian besar peserta berasal dari kalangan mualaf dan pasangan yang selama ini menikah secara siri. Hingga kini, lebih dari 60 pasangan telah lolos verifikasi dan mengikuti tahapan persidangan.
Pemerintah Ajak Masyarakat Jaga Kerukunan

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kutai Barat, Suwito, menegaskan pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan tersebut karena juga melibatkan kunjungan resmi Menteri Agama RI.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan serta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya.
"Kami mengajak masyarakat untuk terus menjaga kerukunan yang selama ini terpelihara dengan baik di Kutai Barat. Apabila ada hal yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban, segera laporkan kepada pihak berwenang," ujarnya.
Menurut Suwito, pemerintah bersama kepolisian terus melakukan koordinasi guna mengantisipasi berbagai dinamika yang berkembang di masyarakat.
Tokoh Adat dan Ormas Serukan Toleransi
Ketua Presidium Dewan Adat (PDA) Kutai Barat, Yurang, menyebut kedatangan Menteri Agama dan UAS merupakan kehormatan bagi daerah. Ia mengapresiasi upaya panitia yang terus berkoordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan kegiatan berjalan baik.
"Kami berharap masyarakat tetap menjaga toleransi. Kutai Barat adalah rumah bersama yang dihuni berbagai suku, agama, dan budaya. Mari kita saling menghormati perbedaan demi menjaga keharmonisan daerah," ujarnya.
Dukungan penuh juga datang dari Ketua Ormas Taruna Gharda Mandiri (TGM) Kubar, Alsiyus, yang membawahi sekitar 37.000 anggota. Ia menegaskan bahwa sikap terbuka adalah kunci utama dalam menjaga kondusivitas wilayah.
Alsiyus mengajak masyarakat untuk tidak terjebak pada isu-isu lama yang dapat memicu perpecahan. Baginya, sudah saatnya warga Kutai Barat menatap masa depan dengan semangat persaudaraan.
"Kami dari TGM secara terbuka mendukung kedatangan Ustadz Abdul Somad ke Kutai Barat. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk membuka pintu maaf. Mari kita tidak lagi melihat ke belakang pada sesuatu yang mungkin dianggap keliru di masa lalu, melainkan menatap masa depan dengan lebih baik," ujar Alsiyus.
Ia pun meminta masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh riak-riak penolakan di media sosial. Menurutnya, aksi tolak-menolak justru berisiko merusak tatanan toleransi yang selama ini dijaga.
"Jika kita melarang seseorang datang, bagaimana jika suatu saat nanti pendeta atau tokoh agama lain pun ditolak hadir di daerah kita? Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi. Kita semua manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan," katanya.
Alsiyus mengingatkan pentingnya mengedepankan ajaran kasih dalam menghadapi perbedaan. Ia berharap seluruh pihak dapat bersikap tenang (cooling down) dan menunjukkan kedewasaan dalam beragama.
"Sesuai ajaran Tuhan, mari kita saling mengampuni dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kedatangan tokoh nasional seperti Menteri Agama dan Ustadz Abdul Somad adalah kehormatan bagi kita. Jangan gunakan narasi yang meruncingkan keadaan. Mari kita tunjukkan bahwa masyarakat Kutai Barat mampu bersatu untuk membangun daerah tanpa sekat perbedaan," ucapnya tegas.
Bagi Alsiyus, toleransi bukanlah sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata untuk saling menghargai. Ia menutup imbauannya dengan harapan agar semangat rendah hati terus menjadi landasan utama bagi seluruh elemen masyarakat dalam membangun Kutai Barat yang lebih damai dan sejahtera.
"Di atas segala perbedaan, masyarakat Kutai Barat tetap satu dalam harmoni. Itulah modal utama untuk membangun daerah yang damai, sejahtera, dan maju bersama," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....