Karhutla Jateng Melonjak 700 Persen, Kemarau Ekstrem Picu Ratusan Kebakaran

  • 25 Agt 2026 20:00 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah mengalami lonjakan drastis sepanjang 2026. Hingga 23 Agustus 2026, BPBD Jawa Tengah mencatat 232 kejadian karhutla atau naik sekitar 700 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan tersebut terjadi seiring meningkatnya suhu pada musim kemarau yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus. Kondisi ini menjadikan karhutla sebagai salah satu ancaman bencana yang perlu mendapat perhatian serius.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan laporan kebakaran lahan terus berdatangan dari sejumlah daerah. Beberapa wilayah yang sempat melaporkan kejadian karhutla antara lain Kabupaten Wonogiri dan Kudus.

"Kebakaran hutan dan lahan memang ada di beberapa tempat. Kemarin saya dapat laporan dari Wonogiri dan Kudus," kata Taj Yasin usai mendampingi Gubernur Ahmad Luthfi di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Senin (24/8/2026).

Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Taj Yasin mengingatkan agar warga tidak membuang puntung rokok sembarangan karena dapat menjadi pemicu munculnya titik api.

"Kita harus antisipasi, kita harus menjaga betul. Kalau merokok jangan buang puntung rokok asal lempar, karena bisa menyebabkan kebakaran," ujarnya.

Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan menjelaskan, sepanjang 2026 hingga 23 Agustus telah terjadi 547 kasus kebakaran di berbagai wilayah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 232 kejadian merupakan karhutla dan 315 kejadian lainnya kebakaran gedung maupun permukiman.

Karhutla yang terjadi tersebar di seluruh 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Dampaknya mencapai 194 hektare lahan terbakar, 213 hektare kawasan hutan terbakar, serta 2,17 hektare area tempat pembuangan akhir (TPA) terdampak kebakaran.

Akibat kejadian tersebut, nilai kerugian yang ditimbulkan ditaksir mencapai Rp23 miliar. Kerusakan terbesar terjadi pada lahan pertanian, kawasan hutan, dan fasilitas pendukung lainnya.

Daerah dengan jumlah karhutla tertinggi tercatat berada di Kabupaten Klaten sebanyak 31 kejadian dan Sragen 30 kejadian. Disusul Sukoharjo 18 kejadian, Wonogiri 17 kejadian, Boyolali 16 kejadian, Blora 14 kejadian, Kabupaten Semarang 13 kejadian, Banyumas dan Kudus masing-masing 10 kejadian, serta Kota Tegal 8 kejadian.

Menurut Bergas, sebagian besar kebakaran terjadi di lahan pertanian, terutama kebun tebu dan area semak belukar. Penyebabnya diduga kuat akibat faktor kelalaian manusia saat membersihkan lahan menjelang panen.

"Kebakaran lahan didominasi kebakaran lahan pertanian khususnya tebu dan semak belukar. Penyebabnya diduga karena human error, untuk lahan tebu biasanya untuk membersihkan selasar tebu saat panen," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....