Terdepan Perangi Stunting, Prevalensinya di Jateng Capai 9,93 Persen

  • 21 Sep 2026 20:15 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Prevalensi stunting di Jawa Tengah berhasil ditekan hingga 9,93 persen pada triwulan II tahun 2026. Namun kesenjangan angka stunting antarwilayah masih menjadi tantangan yang harus segera diatasi melalui kerja sama lintas sektor.

Seperti halnya Wonosobo tercatat memiliki prevalensi 18,05 persen, disusul Purworejo 16,62 persen, Banjarnegara 16,24 persen, Kabupaten Magelang 15,82 persen, dan Kabupaten Tegal 15,59 persen. Di sisi lain, sejumlah daerah telah mencatat capaian yang jauh lebih baik dengan angka di bawah 10 persen, seperti Kabupaten Demak bahkan berhasil menekan prevalensi stunting hingga sekitar 2 persen.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, percepatan penurunan stunting membutuhkan kerja kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan. Upaya tersebut mencakup pendampingan keluarga, pencegahan pernikahan dini, hingga penguatan intervensi pada ibu hamil dan anak.

"Jawa Tengah akan paling depan memerangi stunting. Seluruh kepala daerah di Jateng dituntut untuk menurunkan stunting," ujarnya saat menerima audiensi delegasi Sekretariat Wakil Presiden di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin 21 September 2026.

Pertemuan tersebut juga membahas persiapan Konsolidasi Teknis Percepatan Penurunan Stunting dan Advokasi Pencegahan Stunting Regional Jawa-Bali-Nusa Tenggara yang akan digelar di Semarang pada 22–23 September 2026.

Menurut Luthfi, penurunan stunting menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi masa depan yang sehat dan berkualitas. Karena itu, keterlibatan Dinas Kesehatan, DP3AKB, BKKBN, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa, hingga PKK harus terus diperkuat.

Ia menegaskan, anak-anak harus dipersiapkan sejak masa pranikah, kehamilan, hingga 1.000 hari pertama kehidupan. Seluruh kepala daerah di Jawa Tengah juga didorong untuk menjadikan penurunan stunting sebagai prioritas pembangunan.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, mengatakan strategi penanganan stunting dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor dan pendekatan berbasis siklus hidup. Salah satu langkah penting adalah mengidentifikasi risiko stunting sejak masa kehamilan agar intervensi dapat dilakukan lebih dini.

"Dari ibu hamil itu kita bisa prediksi risiko stuntingnya, 85% stunting itu bisa diketahui sejak kehamilan, intervensinya berlanjut sampai 1.000 hari kehidupan pertama," katanya.

Meski rata-rata prevalensi stunting Jawa Tengah sudah berada di bawah 10 persen, disparitas antarwilayah masih cukup tinggi.

Sementara itu, Deputi Bidang Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Setwapres, Eddy Cahyono Sugiarto, mengatakan percepatan penurunan stunting menjadi bagian penting dari agenda pembangunan sumber daya manusia nasional. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan didorong untuk memperkuat sinergi dalam pencegahan dan penanganan stunting.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia 2024, angka stunting nasional turun dari 21,5 persen menjadi 19,8 persen. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting nasional mencapai sekitar 15 persen pada 2029 sehingga dibutuhkan kerja keras dan kolaborasi berkelanjutan untuk mencapainya.

"Mari kita turunkan stunting untuk memastikan kesiapan SDM unggul. Gubernur Jateng sudah punya komitmen tinggi untuk menurunkan stunting. Kami juga ajak seluruh komponen bangsa termasuk media untuk berperan dalam advokasi pencegahan stunting," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....