Australia Tanam Investasi Rp5,7 Triliun di Batang, Serap 1.000 Tenaga Kerja

  • 03 Agt 2026 17:14 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Jawa Tengah kembali menarik investasi besar dari luar negeri setelah perusahaan asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT), berencana menanamkan modal senilai Rp5,7 triliun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang. Investasi tersebut akan digunakan untuk membangun pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik yang diproyeksikan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja selama masa konstruksi.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan dukungan penuh terhadap rencana investasi tersebut saat menerima audiensi jajaran PBT di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin 3 Agustus 2026. Menurutnya, investasi strategis itu akan memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu pusat industri kendaraan listrik nasional.

Ia juga meminta seluruh proses perizinan dan koordinasi lintas instansi dipercepat agar proyek dapat segera direalisasikan.“Saya mendukung proyek dan rencana investasi Anda,” tegas Luthfi.

Pabrik tersebut akan memproduksi bahan utama pembuatan baterai kendaraan listrik atau precursor cathode active material. Pembangunan ditargetkan dimulai pada 2027 setelah perusahaan menyelesaikan tahap rekayasa dan persiapan teknis.

Ketua PBT, Stephen Wilmot, mengatakan proyek di Batang menjadi investasi terbesar yang pernah dilakukan perusahaannya. Kapasitas produksi fasilitas tersebut bahkan diperkirakan lebih dari empat kali lipat dibanding fasilitas pemurnian yang saat ini dimiliki perusahaan di Jerman.

“Kami berharap dapat mulai membangun tahun depan. Selama masa konstruksi, proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja,” ujar Wilmot.

Saat mulai beroperasi, pabrik diproyeksikan mempekerjakan sekitar 200 pekerja tetap. Selain itu, ribuan peluang kerja tidak langsung diperkirakan tumbuh dari sektor logistik, transportasi, pengiriman, hingga berbagai usaha pendukung lainnya.

PBT memastikan akan mengutamakan tenaga kerja lokal untuk memenuhi kebutuhan industri tersebut. Perusahaan juga menyiapkan program pendidikan dan pelatihan agar masyarakat Jawa Tengah memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri baterai.

“Kami tidak ingin mendatangkan tenaga kerja dari negara lain. Kami ingin melatih masyarakat lokal agar dapat bekerja di pabrik kami,” kata Wilmot.

Menurutnya, fasilitas di Batang berpotensi menghasilkan pendapatan hingga sekitar Rp14,6 triliun per tahun, bergantung pada perkembangan harga nikel dunia. Perusahaan juga berencana membangun rantai industri baterai secara terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga daur ulang baterai yang telah habis masa pakainya.

Wilmot mengungkapkan, Jawa Tengah dipilih setelah melalui proses kajian yang panjang. Selain memiliki lokasi strategis, provinsi ini dinilai memiliki ketersediaan sumber daya manusia yang besar serta prospek kuat sebagai pusat industri manufaktur.

Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, investasi tersebut sejalan dengan upaya pengembangan industri hijau dan energi terbarukan. Ahmad Luthfi berharap keberadaan pabrik tidak hanya mendukung ekspor, tetapi juga memperkuat kebutuhan industri kendaraan listrik dan energi bersih di dalam negeri.

Dengan jumlah penduduk sekitar 38 juta jiwa dan terus berkembangnya penggunaan energi terbarukan, Jawa Tengah dinilai memiliki pasar yang besar untuk industri masa depan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah daerah berupaya memastikan investasi yang masuk tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan industri nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....