Purworejo Bersiap Tinggalkan Open Dumping, Sampah Diolah Jadi Produk Bernilai

  • 16 Jul 2026 12:51 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Purworejo mulai meninggalkan sistem open dumping karena kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) diperkirakan hanya mampu beroperasi sekitar dua tahun lagi.
  • Sampah akan diolah menjadi produk bernilai, seperti Refuse Derived Fuel (RDF) untuk industri semen, kompos, dan pakan maggot guna mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.
  • DLHP Purworejo mengajak masyarakat memilah sampah dari sumbernya serta mengoptimalkan kembali operasional TPS3R sebagai bagian dari pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Purworejo – Pemerintah Kabupaten Purworejo mulai menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern sebagai pengganti metode open dumping. Langkah tersebut dilakukan menyusul kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang diperkirakan hanya mampu menampung sampah hingga dua tahun ke depan.

Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo bersama sejumlah instansi terkait telah menyusun strategi baru agar sampah tidak lagi sekadar dibuang ke TPA. Ke depan, sampah akan diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat.

Kepala DLHP Kabupaten Purworejo, Budi Wibowo, mengatakan perubahan sistem pengelolaan sampah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Selain memperpanjang usia TPA, langkah tersebut juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah secara signifikan.

"Umur operasional TPA kita diperkirakan tinggal dua tahun lagi. Karena itu ke depan pengelolaan sampah harus berubah, tidak hanya dibuang begitu saja, tetapi diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat," ujarnya, Kamis, 16 Juli 2026.

Menurut Budi, sampah anorganik akan dipilah dan diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif. Produk tersebut nantinya dapat dimanfaatkan oleh industri semen, salah satunya di Kabupaten Cilacap.

Sementara itu, sampah organik akan didorong untuk diolah menjadi kompos maupun pakan maggot. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA setiap hari.

"Saat ini Kabupaten Purworejo menghasilkan sekitar 60 ton sampah setiap hari. Karena itu, pengurangan sampah dari sumbernya dinilai menjadi langkah yang sangat penting," katanya.

DLHP juga akan mengoptimalkan kembali keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di desa dan kelurahan. Dari 19 unit TPS3R yang tersedia, saat ini baru 12 yang aktif beroperasi.

"Dari 19 TPS3R yang ada, saat ini baru 12 yang aktif. Sisanya akan kami dorong agar dapat beroperasi kembali sehingga pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat menjadi lebih optimal," ujarnya.

Selain mengaktifkan TPS3R, pemerintah daerah juga berencana membangun TPS terpadu sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Masyarakat pun diimbau mulai membiasakan memilah sampah sejak dari rumah agar sampah yang masih bernilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali.

Budi juga mengajak pelaku usaha, termasuk sektor kuliner, untuk mengelola sampah secara mandiri. Menurutnya, pengelolaan sejak dari sumber akan mengurangi beban TPA sekaligus mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

"Kalau sampah dipilah sejak dari rumah atau tempat usaha, banyak yang masih bisa dimanfaatkan. Dengan begitu volume sampah yang masuk ke TPA akan semakin berkurang," katanya.

Sementara itu, warga Purworejo, Wahyu, mengapresiasi kinerja DLHP dalam penanganan sampah. Menurutnya, kondisi kebersihan di sejumlah titik kini semakin baik.

"Tidak ada sampah yang terlalu lama di lokasi, seperti kontainer sampah yang sering diletakkan di pasar. Sekarang Purworejo kembali menjaga kebersihannya, lumayan sudah lebih baik daripada yang kemarin," ujarnya.(Ags)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....