Pemkot Semarang Percepat Penghentian Open Dumping di TPA Jatibarang
- 03 Jun 2026 09:34 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Pemerintah Kota(Pemkot) Semarang terus mempersiapkan pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang. Hal ini menjadi upaya memenuhi ketentuan pemerintah pusat terkait penghentian praktik pembuangan sampah terbuka atau open dumping.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Glory Nasarani, mengatakan berbagai langkah telah dilakukan untuk mengubah sistem pengelolaan sampah menuju controlled landfill. Salah satunya melalui penerapan soil cover atau penutupan timbunan sampah dengan lapisan tanah secara berkala.
“Kalau syaratnya tidak lagi open dumping, minimal harus ada soil cover dan penanganan lindi. Untuk soil cover sebenarnya sejak awal Januari kami sudah mulai menata dan menjadwalkan penutupan sampah seminggu sekali,” kata Glory, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurutnya, sebagian besar area timbunan sampah di TPA Jatibarang kini telah tertutup tanah. Hanya zona buang aktif yang masih terus menerima sampah dan secara rutin dilakukan pelapisan tanah setiap pekan.
“Kalau cuaca mendukung, proses penutupan bisa berjalan lebih cepat. Saat ini sebagian besar sudah tertutup dan tinggal zona aktif yang terus kami lapisi secara berkala,” ujarnya.
Selain soil cover, DLH juga fokus membenahi sistem pengelolaan air lindi. Saat ini Pemkot Semarang sedang membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) baru untuk meningkatkan penanganan lindi di kawasan TPA.
“Untuk penanganan lindi juga sedang berproses. Kami sedang membangun IPAL baru sehingga mudah-mudahan pengelolaan lindi dapat segera tertangani lebih optimal,” katanya.
Glory mengungkapkan kendala utama dalam pelaksanaan program penghentian open dumping bukan berasal dari anggaran maupun ketersediaan alat berat, melainkan faktor cuaca. “Saat hujan, kondisi tanah menjadi labil dan berisiko bagi keselamatan petugas maupun alat berat saat melakukan penutupan timbunan sampah,” katanya.
Ia menegaskan, dari sisi pembiayaan, kebutuhan untuk pelaksanaan soil cover tidak mengalami hambatan. Dengan demikian, target menuju sistem pengelolaan yang lebih baik dapat terus dikejar.
Di sisi lain, Pemkot Semarang juga terus mengikuti perkembangan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang masuk dalam program strategis nasional. Saat ini proses proyek tersebut masih berada pada tahap persiapan dokumen dan finalisasi kajian di bawah koordinasi Danantara.
“Market sounding sudah dilakukan dan informasi terakhir ada sekitar 80 investor yang menyatakan minat. Dalam waktu dekat juga direncanakan ada kegiatan site visit,” ungkapnya.
Terkait teknologi yang akan digunakan, Glory menyebut masih menunggu hasil kajian dan proses lelang. Namun, teknologi termal dinilai menjadi salah satu opsi yang paling memungkinkan karena mampu mengurangi volume sampah secara cepat.
“Teknologi termal itu bisa berupa insinerator, pirolisis maupun plasma. Prinsipnya menggunakan suhu tinggi untuk mengolah sampah dengan tetap memperhatikan aspek ramah lingkungan,” ucapnya.
Proyek PSEL yang dirancang melalui kerja sama regional tersebut diperkirakan memiliki nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Proyek ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah di wilayah Semarang Raya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....