Debit Air Menyusut, Petani Desak Pemkab Pekalongan Normalisasi Irigasi
- 16 Jul 2026 09:09 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Petani Kabupaten Pekalongan mendesak pemerintah menormalisasi saluran irigasi sekunder Sudikampir yang mengalami sedimentasi parah.
- Puncak musim kemarau panjang (El Nino Godzilla) diperkirakan terjadi Agustus-September 2026, mengancam produksi padi musim tanam kedua.
- Pemerintah desa menerapkan sistem pembagian air bergiliran untuk memaksimalkan distribusi air yang terbatas kepada seluruh lahan pertanian.
- Petani telah bergotong royong membersihkan sedimen namun membutuhkan dukungan alat berat seperti ekskavator untuk hasil maksimal.
RRI.CO.ID, Pekalongan – Petani di Kabupaten Pekalongan mendesak pemerintah segera menormalisasi saluran irigasi sekunder Sudikampir yang mengalami sedimentasi. Langkah itu dinilai mendesak untuk menjaga pasokan air ke sawah menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Kondisi tersebut dirasakan petani di Desa Kalipancur, Kecamatan Bojong. Menurunnya debit air irigasi dikhawatirkan mengganggu musim tanam kedua (MT II) dan berpotensi menurunkan hasil panen.
Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Kalijogo sekaligus Anggota Komisi Irigasi Jawa Tengah, Tangguh Prawira, mengatakan sedimentasi di saluran irigasi sekunder telah menghambat distribusi air menuju lahan pertanian. Menurutnya, persoalan itu harus segera ditangani sebelum dampaknya semakin meluas.
"Hari ini kami juga menyampaikan bahwa puncak El Nino Godzilla atau kemarau panjang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Masyarakat harus mulai mempersiapkan diri menghadapi kondisi tersebut," katanya, Rabu, 15 Juli 2026.
Ia menjelaskan, prioritas saat ini adalah menyelamatkan tanaman padi yang telah memasuki usia sekitar satu setengah bulan. Namun, upaya tersebut akan sulit berhasil jika saluran irigasi masih dipenuhi endapan sedimen.
"Kalau saluran sekunder maupun tersier dipenuhi sedimen, tentu itu menjadi kendala besar bagi distribusi air. Karena itu masyarakat menghendaki adanya normalisasi agar air bisa sampai ke lahan pertanian," ujarnya.
Tangguh mengingatkan, wilayah pertanian di Kecamatan Kesesi, Bojong, dan Sragi berpotensi mengalami kekeringan apabila musim kemarau berlangsung lebih lama. Oleh karena itu, pemerintah diminta segera mengambil langkah sebelum petani mengalami gagal panen.
Sebagai upaya darurat, petani bersama warga telah bergotong royong membersihkan sedimentasi di saluran Sudikampir. Namun, menurutnya, pekerjaan tersebut membutuhkan dukungan alat berat agar hasilnya lebih maksimal.
"Kami berharap ada bantuan alat berat seperti ekskavator untuk melakukan penggalian dan pengurasan sedimen. Masyarakat tidak bisa bergerak sendiri, begitu juga pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kalipancur, Muhroji, mengatakan pemerintah desa bersama petani telah menyepakati sistem pembagian air secara bergiliran. Kebijakan tersebut diterapkan agar seluruh lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air di tengah terbatasnya debit irigasi.
"Karena debit airnya sedikit, kebijakan kami adalah mengatur pembagian air secara bergiliran. Yang penting semua lahan tetap mendapatkan air, sehingga hasil panen ke depan bisa tetap baik," katanya.
Muhroji berharap instansi terkait segera melakukan normalisasi saluran irigasi Sudikampir, khususnya yang melintasi Desa Kalipancur. Dengan begitu, distribusi air dapat kembali lancar dan petani terhindar dari risiko kerugian saat puncak musim kemarau tiba.
"Harapan kami kepada dinas terkait, mohon sedimentasi di saluran sekunder jaringan irigasi Sudikampir. Khususnya, yang berada di wilayah Desa Kalipancur, segera dinormalisasi," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....