Jateng Nihil Kasus Hantavirus, Delapan RS Jateng Tetap Disiagakan

  • 19 Mei 2026 19:20 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan belum ditemukan kasus positif Hantavirus sepanjang Januari hingga Mei 2026. Meski nihil kasus, delapan rumah sakit milik Pemprov Jateng tetap disiagakan untuk mengantisipasi potensi kemunculan penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab mengatakan, masyarakat diminta tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Langkah kesiapsiagaan dilakukan karena Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut.

“Hantavirus ini merupakan reemerging disease, penyakit yang dulu pernah muncul kemudian muncul kembali. Di Jawa Tengah terakhir dilaporkan pada 2023, dan sampai sekarang belum ada kasus baru,” kata Zulfachmi, Selasa 19 Mei 2026.

Sebagai bentuk antisipasi, delapan rumah sakit milik Pemprov Jawa Tengah telah dipersiapkan untuk menangani pasien apabila ditemukan gejala yang mengarah pada Hantavirus. Tiga rumah sakit rujukan utama yang disiagakan yakni RS dr Adhyatma MPH Semarang, RS Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto, dan RS Dr Moewardi Surakarta.

Menurut Zulfachmi, Hantavirus ditularkan melalui air liur, urine, dan kotoran tikus yang telah terinfeksi. Penularan dapat terjadi saat seseorang bersentuhan langsung dengan media tersebut atau menghirup partikel kering yang terbawa udara.

Wilayah dengan populasi tikus tinggi, seperti kawasan pelabuhan, menjadi lokasi yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebelumnya, kasus Hantavirus di Jawa Tengah pernah ditemukan di wilayah pelabuhan Kabupaten Demak pada 2023.

Penyakit ini umumnya menyerang sistem ginjal dan pernapasan dengan gejala awal berupa demam, nyeri dada, nyeri perut, gangguan buang air kecil, hingga muncul bercak merah pada selaput mata. Pada kondisi berat, Hantavirus dapat memicu perdarahan hingga gagal ginjal jika tidak segera ditangani.

“Kalau ada gejala seperti demam, nyeri perut, bercak merah di mata, atau tanda perdarahan, segera periksa ke fasilitas kesehatan, agar tidak jatuh pada stadium gagal ginjal,” ujarnya.

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan Hantavirus harus dilakukan melalui tes PCR dan serologis di rumah sakit rujukan. Dinas Kesehatan Jateng juga telah mengedukasi seluruh fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas, agar mampu melakukan deteksi dini terhadap penyakit tersebut.

Sebagai penguatan kapasitas tenaga kesehatan, Dinkes Jateng akan mengumpulkan 883 puskesmas se-Jawa Tengah melalui program edukasi “Jumat Pintar”. Program ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman petugas kesehatan mengenai gejala, penanganan, dan kewaspadaan terhadap Hantavirus.

Zulfachmi menambahkan, hingga kini belum tersedia vaksin untuk Hantavirus. Meski begitu, peluang kesembuhan tetap tinggi apabila penyakit dapat dikenali dan ditangani sejak awal.

“Semakin cepat dikenali dan diobati, maka angka kematian akan semakin rendah,” katanya.

Dinkes Jateng juga mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, rutin mencuci tangan, serta menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....