Revolusi Sampah Pesantren, RMI Purworejo Ubah 2 Ton Limbah jadi Investasi Ekonomi

  • 18 Mei 2026 13:25 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Purworejo - Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama RMI PCNU Kabupaten Purworejo mendorong 61 pondok pesantren di wilayahnya mengubah persoalan sampah menjadi berkah ekonomi dan lingkungan. Hal itu diwujudkan melalui sarasehan “Revolusi Sampah Pesantren: Dari Masalah Jadi Berkah”.

Kegiatan digelar di Gedung SMK Nurussalaf Kemiri, Kabupaten Purworejo, Minggu , 17 Mei 2026. Kegiatan ini turut dihadiri Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan(DLHP) Purworejo, serta praktisi Krapyak Peduli Sampah sebagai narasumber utama.

Ketua RMI PCNU Purworejo, KHR M Amir Kilal menyatakan pengelolaan sampah di lingkungan pesantren sudah mendesak untuk ditangani secara sistematis dan berkelanjutan. “Harapannya, kegiatan ini tidak hanya menambah pemahaman secara teori, tetapi juga dapat dipraktikkan di pondok pesantren masing-masing,” ujarnya.

Ketua PCNU Purworejo, KH M Haekal menyebut volume sampah di Kabupaten Purworejo mencapai ratusan ton per hari. “Pesantren sebagai bagian dari masyarakat tentu perlu terlibat dalam ikhtiar bersama mengelola sampah dengan baik,” katanya.

Pada sesi materi, DLHP Purworejo memperkenalkan konsep Eco-Pesantren. Konsep ini mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pendidikan lingkungan.

Melalui konsep ini, sampah organik diolah menjadi pupuk, biogas, dan budidaya maggot. Sementara sampah anorganik dikelola melalui Bank Sampah Asrama BSA untuk menciptakan nilai ekonomi.

Praktik nyata dipaparkan Direktur Krapyak Peduli Sampah, Andika Muhammad Nuur. Ia mencontohkan, Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang berhasil menekan volume sampah harian dari 2 ton menjadi 100 kg melalui pemilahan hingga 36 kategori.

“Dulu sampah dianggap kotor dan tidak bernilai. Sekarang sampah menjadi investasi,” ungkap Andika.

Dampaknya langsung dirasakan pada efisiensi keuangan pesantren. Biaya angkut sampah yang sebelumnya mencapai Rp30 juta per bulan kini berbalik menjadi pemasukan.

"Keberhasilan ini ditopang empat perspektif utama yakni sosial, ekologi politik, ekonomi, serta kesehatan dan keindahan. Ditambah, kolaborasi dengan UMKM dan masyarakat sekitar," ungkapnya.

Sarasehan ditutup dengan sosialisasi program Digdaya Pesantren X Portal Pesantren NU. Sekretaris RMI PCNU Purworejo, Muhammad Syukri Abadi menjelaskan, platform digital ini memperkuat pendataan, identitas resmi, dan promosi pondok pesantren NU melalui laman http://pesantren.nu.id.

“Ini tidak sekadar pendataan pesantren. Akan tetapi, ikhtiar agar pesantren NU lebih terlihat, lebih terhubung, dan lebih berdaya di era digital,” ujar Syukri.

RMI PCNU Purworejo berharap model Eco-Pesantren dan ekonomi sirkular ini dapat diadopsi seluruh pondok pesantren di Purworejo. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan produktif.(Ags)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....