SPMB 2026 Berakhir, Ratusan Kursi SMP Negeri di Purworejo Tak Terisi
- 08 Jul 2026 11:38 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Purworejo – Sebanyak 657 kursi di SMP negeri Kabupaten Purworejo belum terisi hingga berakhirnya pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 pada akhir Juni lalu. Kondisi tersebut terjadi akibat jumlah lulusan sekolah dasar yang lebih sedikit dibandingkan daya tampung sekolah yang tersedia.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan(Disdikbud) Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, mengatakan secara umum pelaksanaan SPMB jenjang SMP berjalan lancar. Namun, tidak seluruh sekolah mampu memenuhi kuota penerimaan peserta didik baru.
Menurutnya, daya tampung SMP negeri di Purworejo tahun ini mencapai 7.807 kursi, sedangkan jumlah siswa yang melakukan pendaftaran hingga daftar ulang sebanyak 7.151 orang. “Kalau rata-rata secara keseluruhan, keterisian sekolah SMP negeri di Kabupaten Purworejo mencapai 91,58 persen," kata Yudhie dalam dialog Semarang Menyapa, Rabu, 8 Juli 2026.
Ia menjelaskan, kekosongan kursi tersebut sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak awal. Berdasarkan data Disdikbud, jumlah lulusan SD dan MI di Purworejo hanya sekitar 10.595 anak, sedangkan total daya tampung SMP negeri, SMP swasta, MTs negeri, dan MTs swasta mencapai 12.735 kursi.
"Yang sangat menentukan adalah adanya gap yang begitu besar. Jumlah lulusan dengan kursi yang disediakan terpaut sekitar 2.140, jadi pasti akan ada sekolah, baik negeri maupun swasta, yang kuotanya tidak terpenuhi," ujarnya.
Selain karena keterbatasan jumlah lulusan, sebagian siswa juga memilih melanjutkan pendidikan ke madrasah, pondok pesantren, atau sekolah di luar Kabupaten Purworejo. Faktor tersebut turut memengaruhi jumlah peserta didik yang masuk ke SMP negeri.
Disdikbud Purworejo juga mulai memetakan sekolah-sekolah yang mengalami penurunan jumlah peserta didik. Menurut Yudhie, ada sejumlah sekolah yang berpotensi kehilangan satu rombongan belajar (rombel), sehingga perlu dilakukan penyesuaian jumlah kelas dan distribusi guru agar proses pembelajaran tetap berjalan optimal.
"Kami harus memetakan kembali. Ketika sekolah yang sebelumnya memiliki empat rombel kini hanya menjadi tiga rombel, tentu akan berkaitan dengan penataan guru dan distribusinya ke sekolah lain," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....