Kasus Dugaan Kekerasan di Daycare, Pengawasan dan Standar Layanan Jadi Sorotan

  • 28 Apr 2026 16:01 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Maraknya kasus dugaan kekerasan terhadap anak di tempat penitipan (daycare) kembali menjadi perhatian publik. Direktur Yayasan Anantaka, Tsaniatus Sholihah (Mba Ika), menilai persoalan ini tidak hanya terjadi di daycare, tetapi juga di lingkungan pendidikan anak usia dini (PAUD).

Menurutnya, kasus yang belakangan viral membuka mata banyak pihak. Masih ada anak-anak yang tidak mendapatkan perlakuan semestinya saat berada di tempat penitipan. “

Kalau berbicara kekerasan, sebenarnya tidak hanya di daycare saja, tapi juga di lembaga pendidikan anak usia dini. Hanya saja, kasus yang viral kemarin memang terjadi di daycare, sehingga menjadi sorotan,” katanya kepada RRI, Selasa, 28 April 2026.

Ia menjelaskan, salah satu akar masalah yang kerap terjadi adalah kurangnya kesiapan lembaga daycare dalam membuka layanan. Padahal, ada sejumlah syarat yang seharusnya dipenuhi, mulai dari perizinan hingga sistem rekrutmen pengasuh.

“Yang pertama tentu terkait izin. Selain itu, bagaimana proses rekrutmen pengasuh, kesiapan mereka, dan kapasitas dalam mengasuh anak juga sangat penting,” katanya.

Namun, ia menilai persoalan tidak berhenti pada tahap awal saja. Saat daycare sudah beroperasi, seringkali pengawasan dan monitoring justru melemah. Hal inilah yang berpotensi menimbulkan celah terjadinya kekerasan.

“Begitu operasional berjalan, pengawasan sering kali kurang. Ini yang membuat kita ‘kecolongan’, sehingga muncul kasus-kasus kekerasan di penitipan anak,” katanya.

Dari sisi pengelola, Mba Ika menegaskan, sebenarnya pemerintah telah memiliki konsep “daycare ramah anak” yang dicanangkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Namun, implementasinya di lapangan masih belum merata.

Ia menilai daycare dengan standar tinggi umumnya mampu memberikan layanan lebih baik karena didukung oleh pengasuh yang berkualitas dan sistem yang lebih matang. Meski demikian, tidak semua daycare mampu memenuhi standar tersebut.

“Biasanya daycare dengan kualitas tertentu akan menggaji pengasuh lebih baik dan memiliki standar lebih tinggi. Tapi tidak semua daycare bisa seperti itu, karena menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peningkatan keterampilan pengasuh serta sistem internal yang jelas dalam setiap daycare. Standarisasi layanan, menurutnya, menjadi kunci untuk memastikan anak-anak mendapatkan pengasuhan yang aman dan berkualitas.

“Yang paling penting adalah bagaimana keterampilan pengasuh dan sistem yang dibangun di daycare. Harus ada standar yang jelas terkait kapasitas dan kualitas layanan,” ucapnya. (Aritsu)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....