Kasus Infeksi Meningkat, Pasien RSUD Kudus Melonjak
- 29 Sep 2026 15:12 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus – Kasus infeksi saluran pernapasan dan infeksi saluran pencernaan meningkat di Kabupaten Kudus sejak awal September 2026. Kondisi tersebut memicu lonjakan pasien di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dengan kunjungan UGD mencapai rata-rata 32 hingga 40 pasien per hari.
Selain kedua penyakit tersebut, RSUD juga banyak menangani pasien penyakit jantung, stroke, bronkopneumonia, gastroenteritis dan tifus. Tingginya jumlah pasien membuat tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) mencapai 84,4 persen, dengan 38 pasien masih menjalani perawatan di UGD.
"Rata-rata hampir semua sama. Anak-anak, dewasa, sampai lansia juga banyak. Di semua unit rawat inap, baik alokasi anak, dewasa maupun lansia, semuanya penuh," ungkap Plt Direktur RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr. Andini Aridewi, Selasa, 29 September 2026.
Tingginya angka kesakitan tersebut terjadi hampir di seluruh kelompok usia, mulai dari anak-anak, dewasa hingga lanjut usia (lansia). Kondisi ini membuat seluruh unit rawat inap rumah sakit menghadapi tingginya kebutuhan tempat tidur.
Menghadapi lonjakan pasien, pihak rumah sakit mengoptimalkan seluruh ruangan dan fasilitas tempat tidur yang tersedia. Penggunaan stretcher juga dilakukan untuk mendukung penanganan pasien, khususnya dalam kondisi kegawatdaruratan.
Percepatan pelayanan dilakukan agar pasien yang sudah diperbolehkan pulang dapat segera meninggalkan rumah sakit. Langkah tersebut diharapkan mempercepat ketersediaan tempat tidur bagi pasien lain yang membutuhkan perawatan.
"Teman-teman di tim pelayanan terus melakukan pembaruan dan upaya percepatan. Pasien yang memang sudah waktunya pulang diupayakan bisa segera pulang, sehingga tempatnya dapat ditempati pasien lain," jelasnya.
Meski tingkat keterisian tempat tidur cukup tinggi, pihak RSUD memastikan tetap berupaya menerima seluruh pasien yang membutuhkan layanan medis. Jika kapasitas ruang rawat inap belum tersedia, pasien dapat menunggu di UGD dengan persetujuan atau informed consent.
"Kalau memang masih memungkinkan, dengan melihat jumlah pasien yang pulang, tetap kami terima. Kalau belum memungkinkan, kami jelaskan kepada pasien. Jadi, tidak ada penolakan. Pasien tetap kami layani, meskipun harus mengantre terlebih dahulu di UGD," tegasnya.
Hingga saat ini, pasien yang masih mengantre untuk mendapatkan ruang rawat inap tercatat tinggal dua orang. Sementara itu, pasien dengan kondisi berat yang membutuhkan layanan khusus dan hanya tersedia di RSUD tetap menjadi prioritas penanganan.
Pihak rumah sakit menyebut lonjakan pasien pada September merupakan pola yang kerap terjadi setiap tahun. Kunjungan biasanya menurun pada Juni hingga Agustus, kemudian meningkat mulai September dan berlanjut hingga Februari. Namun, lonjakan September tahun ini dinilai lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Biasanya September memang mulai naik, kemudian Oktober, November, Desember hingga Januari dan Februari. Namun, September tahun ini luar biasa, lebih tinggi dari biasanya," ungkapnya.
Selain pola kunjungan tahunan, faktor cuaca diduga turut memengaruhi peningkatan kasus penyakit infeksi. Untuk gambaran menyeluruh mengenai perkembangan kasus penyakit di Kabupaten Kudus, masyarakat dapat mengacu pada data Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus. RSUD terus mengoptimalkan pelayanan dan koordinasi antartim medis untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan sesuai kondisi dan tingkat kegawatdaruratannya. (RK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....