Tren Kasus Gagal Ginjal di Jateng Naik, Didominasi Usia Muda dan Dewasa
- 31 Jul 2026 11:15 WIB
- Semarang
RRI. CO..ID, Semarang – Kasus gagal ginjal di jawa Tengah mengalami tren kenaikan yang didominasi usia muda dan dewasa. Untuk itu, RS Kariadi terus meningkatkan layanan nefrologi untuk meningkatkan mutu pelayanan seiring bertambahnya jumlah pasien melalui Forum Konsultasi Publik (FKP) pada Kamis, 30 Juli 2026.
Direktur Layanan Operasional RSUP dr. Kariadi Semarang, Dr. Ninung Rose Diana Kusumawati, MSI,MED, SPA mengatakan RS Kariadi terus berinovasi dengan mendengarkan pendapat dari publik tentang layanan bagi pasien ginjal. Melalui forum tersebut untuk mendengarkan pendapat dari stakeholder guna perbaikan layanan.
“Forum ini supaya nantinya kita berikan sesuai dengan kebutuhan dan bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Kami memiliki tim transplantasi ginjal yang solid dan berkompeten untuk melakukan tindakan tersebut,” ucapnya di sela kegiatan Forum Konsultasi Publik (FKP).
Menurutnya, layanan pasien ginjal di RS Kariadi mulai dari hemodialisis, Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), hingga transplantasi ginjal anak yang pertama di Jawa Tengah. Dengan adanya forum ini, pihaknya terus berinovasi dan mendengarkan masukan dari publik.
“Kami mencatatkan capaian penting dengan menjadi rumah sakit kedua di Indonesia. Sekaligus, yang pertama di Jawa Tengah yang berhasil melakukan transplantasi ginjal pada pasien anak,” ungkapnya.
Tim Nefrologi dan Ginjal RS Kariadi, dr. Ayudyah Nuroni mengungkapkan jumlah pasien baru penyakit ginjal, baik dari layanan rawat jalan maupun rujukan daerah, terus meningkat. Peningkatan pasien gagal ginjal banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa muda.
"Faktor penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari penyakit glomerulus akibat infeksi sejak kecil yang tidak tertangani dengan baik hingga hipertensi akibat gaya hidup yang tidak terkontrol," ucapnya.
Selain pada usia dewasa, lanjut dia, kasus kelainan ginjal pada anak juga masih cukup tinggi. Penyebab utamanya antara lain kelainan bawaan saluran kemih dan infeksi.
“Guna mengurangi kepadatan layanan hemodialisis di rumah sakit, kami mendorong pemanfaatan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). CAPD merupakan metode cuci darah melalui rongga perut yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah,” katanya.
Sementara itu, salah satu pasien gagal ginjal dari Grobogan, Cici Rustiana (33) , mengaku kondisinya jauh lebih baik setelah menjalani CAPD . Ia telah menjalani CAPD selama 2,5 tahun.
"Sebelum menjalani CAPD, kondisi saya tidak stabil hingga tidak bisa beraktifitas. Namun, setelah menjalani beralih ke CAPD, saya bisa beraktivitas normal seperti memasak, berbelanja hingga menjemput anak sekolah,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....