Temukan Arah Hidup, Anak Muda Perlu Jeda Sejenak di Tengah Kesibukan
- 20 Mei 2026 10:30 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Perasaan kehilangan arah hidup kini semakin sering dirasakan generasi muda di tengah tekanan kehidupan modern. Kondisi tersebut membuat banyak orang tetap terlihat aktif, tetapi merasa kosong di dalam dirinya.
Educator dan Founder The Excellent Study & Rewiring Hope, Anastasia Tantri, menilai kehilangan arah bukan sesuatu yang dramatis. Menurutnya, kondisi tersebut sering hadir secara sunyi tanpa disadari seseorang.
Pembahasan ini berlangsung dalam dialog di Studio Pro 2 RRI Semarang pada Jumat, 15 Mei 2026 sore. Diskusi tersebut mengangkat tema Finding Your Compass atau seni menemukan kembali arah hidup.
Menurut Tantri, banyak orang tetap menjalani aktivitas tanpa benar-benar memahami tujuan hidupnya. “Kita punya kecepatan, tapi belum tentu punya arah,” ujarnya.
Tantri menjelaskan kondisi kehilangan arah sering disalahartikan sebagai kemalasan atau kurang motivasi. Padahal, banyak orang sebenarnya mengalami kelelahan emosional dan mental.
Ia menilai tekanan media sosial membuat seseorang mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain. Kondisi tersebut perlahan menguras energi dan rasa percaya diri.
Menurutnya, setiap orang membutuhkan waktu untuk berhenti dan memahami dirinya sendiri. Fase tersebut dinilai penting sebelum kembali melangkah dalam hidup.
Ia mengibaratkan kondisi manusia seperti baterai ponsel yang bisa habis sewaktu-waktu. Saat energi habis, seseorang membutuhkan waktu untuk mengisi ulang dirinya.
Namun, ia menegaskan, kondisi tersebut bukan berarti seseorang gagal menjalani hidup. Menurutnya, hidup tidak selalu harus sempurna agar terasa bermakna.
Tantri juga menyoroti pentingnya menemukan kebermaknaan hidup dalam aktivitas sehari-hari. Ia menyebut banyak orang kehilangan arah karena terus mengejar standar ideal dari lingkungan sekitar, padahal, kebermaknaan hidup dapat ditemukan dari hal sederhana.
Kebermaknaan hidup dinilai membantu seseorang bertahan menghadapi tekanan hidup. “Kalau hidup terasa bermakna, orang tidak mudah terus mengeluh,” ujarnya.
Selain itu, Tantri mengajak generasi muda lebih jujur terhadap kondisi emosional dirinya sendiri. Mengakui rasa lelah dinilai menjadi langkah awal memahami diri.
Ia menegaskan tidak semua fase hidup harus dijalani dengan terburu-buru. Kadang seseorang hanya membutuhkan waktu untuk kembali stabil sebelum melangkah.
Proses tersebut membantu seseorang menemukan arah hidupnya kembali. “Kadang yang dibutuhkan bukan arah baru, tapi berhenti sebentar untuk mendengarkan diri sendiri,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....